Sumenep (beritajatim.com) – Jaran Serek, salah satu seni budaya tradisional Sumenep ini mungkin belum banyak yang mengenal. Warisan budaya leluhur ini diakui kalah populer dengan ‘sapi sonok’ dan kerapan sapi.
“Jaran serek ini memang masih kalah populer dengan sapi sonok, atau kerapan sapi. Padahal jaran serek ini juga tidak kalah menariknya. Harus banyak promosi sepertinya ini, biar jaran serek populer,” ujar Bupati Sumenep, Ach. Fauzi Wongsojudo usai membuka Festival Jaran Serek 2025, Senin (05/05/2025).
Jaran serek atau kuda menari ini merupakan salah satu budaya tradisional Sumenep. Kuda-kuda yang dilatih secara khusus itu akan menari, menghentakkan, dan mengangkat kaki sambil menggoyang-goyangkan badannya, mengikuti irama musik Saronen (musik tradisional Sumenep). Tampilan kuda-kuda pilihan ini pun cukup ‘eye catching’, karena menggunakan baju hias dengan warna yang cukup mencolok.
Di sepanjang jalan, selama terdengar musik saronen, kuda-kuda ini secara otomatis akan terus menari mengikuti musik. Di sekeliling kuda juga ada penari-penari tradisional Sumenep yang ikut menari memeriahkan pertunjukan ‘Jaran Serek’.
Awalnya, ‘Jaran Serek’ ini merupakan salah satu ‘suguhan’ istimewa menyambut para tamu agung di Sumenep. Seiring waktu, Jaran Serek juga biasa dimunculkan saat acara pernikahan, selamatan, maupun hajatan lainnya.
“Karena itulah, kami menggelar Festival Jaran Serek. Ini salah satu upaya melestarikan budaya tradisional Sumenep supaya tidak hilang tergerus jaman,” kata Bupati.
Menurutnya, upaya promosi seni budaya tradisional Sumenep termasuk Jaran Serek, juga harus dilakukan di luar daerah, agar orang-orang di luar Sumenep dan di luar Madura, mengetahui seperti apa Jaran Serek itu.
“Tentu saja bagi para pekerja seni, harus bisa menampilkan atraksi Jaran Serek yang lebih kreatif dan atraktif. Sehingga yang menonton juga merasa nyaman dan terhibur,” ucapnya. (tem/ted)






