Jember (beritajatim.com) – Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LDNU PBNU) KH Abdullah Syamsul Arifin mengingatkan kepada umat Islam agar tidak terjebak pada pertanda fisik lailatul qadar. Hal yang lebih penting adalah mengembangkan kerangka makna konsep lailatul qadar.
Selama sepuluh hari terakhir Ramadan, umat Islam meningkatkan intensitas ibadah karena mengharapkan lailatul qadar yang dijanjikan sebagai malam dengan pahala setara beribadah selama seribu bulan. “Namun jangan lantas terjebak kemudian hanya fokus ibadah pada akhir bulan Ramadan saja. Ibaratnya, lailatul qadar itu tamu agung yang akan datang, maka kita yang akan kedatangan tamu wajib mempersiapkan semenjak awal,” kata Abdullah, sebagaimana dilansir Humas Universitas Jember (Unej), Jumat (29/4/2022).
Di hadapan peserta kegiatan siraman rohani keluarga besar Universitas Jember di Masjid Al Hikmah, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Abdullah mengingatkan, hanya umat Islam yang mempersiapkan kedatangan lailatul qadar dengan serius yang akan memperoleh keberkahan sang tamu agung.
“Artinya, mereka yang semenjak awal bulan Ramadan mempersiapkan diri dengan berbagai ibadah yang akan berpeluang besar mendapatkan lailatul qadar,” kata Abdullah.
[berita-terkait number=”4″ tag=”unej”]
Abdullah lantas menyitir bagian akhir surah Al Qadr. “Salamun hiya hatta matla’il fajr. Ada kata salam yang berarti damai. Jadi mereka yang sudah mendapatkan keberkahan malam lailatul qadar salah satu tandanya adalah suka menebarkan kedamaian kepada sesama muslim, bahkan kepada mereka yang berbeda keyakinan,” katanya.
Menurut Abdullah, orang yang mendapatkan lailatul qadar bakal memberikan dampak positif bagi lingkungannya. “Jika mereka menjadi pemimpin, maka setiap keputusan dan kebijakannya memberikan kedamaian. Mereka ini menebarkan kedamaian di dunia hingga fajar kehidupan mereka tenggelam atau meninggalkan dunia ini,” katanya. [wir/but]






