Malang (beritajatim.com) – Psikolog klinis Klinik Pratama Universitas Negeri Malang (UM), Noventia Sekar Pratiwi, M.Psi., Psikolog, memahami kondisi psikologis diri sendiri merupakan langkah awal yang krusial. Namun, proses tersebut harus dibangun berlandaskan informasi yang tepat serta tidak boleh terburu-buru dalam menetapkan label klinis.
“Mengenali gejala psikologis merupakan langkah awal yang baik, tetapi tidak berarti seseorang dapat langsung menyimpulkan bahwa dirinya memiliki gangguan tertentu. Pengalaman yang terasa cocok dengan suatu gejala perlu dipahami berdasarkan konteks, durasi, intensitas, dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari,” ungkap Noventia, Sabtu (17/10/2026).
Kemudahan akses informasi melalui platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube membuat masyarakat dapat dengan mudah menggali berbagai topik psikologi. Mulai dari kecemasan, depresi, trauma, hingga gangguan kepribadian hanya dengan menggeser layar ponsel.
“Sebagian orang mencari informasi tersebut murni untuk memahami akar kecemasan, kebiasaan menunda pekerjaan, atau fluktuasi suasana hati yang tengah dirasakan. Meski demikian, kendala muncul manakala seseorang merasa suatu konten sangat cocok dengan pengalamannya, lalu terus-menerus mencari literatur serupa hingga berujung pada keyakinan keliru,” ungkap Noventia.
Fenomena ini turut didukung oleh riset ilmiah, salah satunya merujuk pada studi Armstrong dan kolega (2025) dalam jurnal Acta Psychologica mengenai paparan konten kesehatan mental di internet. Menurut Noventia itu berkaitan dengan keyakinan individu terhadap kondisi klinis yang belum terdiagnosis resmi.
Noventia menjelaskan, terdapat sejumlah mekanisme psikologis yang mendasari kecenderungan seseorang mengidentifikasi diri dengan label gangguan tertentu. Faktor pertama adalah bias konfirmasi.
“Seseorang yang menduga dirinya mengidap ADHD cenderung lebih peka terhadap pengalaman yang memperkuat dugaan tersebut, sementara informasi yang membantahnya diabaikan begitu saja. Padahal, penurunan konsentrasi bisa dipicu oleh berbagai faktor eksternal seperti kurang tidur, stres kronis, atau masalah kesehatan fisik,” ujar Psikolog UM itu.
Faktor kedua ialah efek Barnum, di mana deskripsi umum mengenai kepribadian atau emosi dirasakan sangat personal oleh pembacanya. Ketika deskripsi tersebut dibalut dengan istilah psikologis, individu mudah terkecoh menganggapnya sebagai penjelasan klinis yang valid.
Ketiga, algoritma media sosial yang repetitif turut memperkuat keyakinan lewat rekomendasi konten serupa. Keempat, adanya kebutuhan mendasar untuk memahami diri dan memperoleh validitas serta penerimaan sosial melalui komunitas daring.
Meski demikian, Noventia mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan label psikologis sebagai tujuan akhir dalam mengenali diri sendiri.
“Jangan menjadikan label sebagai titik akhir dalam memahami diri. Gunakan informasi kesehatan mental untuk mengenali apa yang sedang dialami, lalu cari bantuan profesional apabila keluhan menetap atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari,” katanya menegaskan.
Lebih lanjut, Noventia mengingatkan agar masyarakat tidak menyamakan proses pengenalan gejala dengan penegakan diagnosis klinis. Kesulitan berkonsentrasi tidak otomatis berarti ADHD, begitu pula kecemasan berlebih yang belum tentu mengindikasikan gangguan kecemasan klinis.
Dalam praktik profesional, seorang psikolog atau psikiater menelaah berbagai aspek secara komprehensif, mulai dari pola kemunculan gejala, durasi, tingkat intensitas, konteks lingkungan, dampak fungsional sehari-hari, riwayat perkembangan, hingga menyingkirkan kemungkinan penyebab medis lainnya.
“Oleh sebab itu, mencocokkan gejala pribadi dengan informasi di internet tidak pernah cukup untuk dijadikan landasan diagnosis,” katanya.
Sebagai langkah preventif, masyarakat diimbau untuk menyikapi konten kesehatan mental di dunia maya secara bijak dan kritis. Masyarakat juga diimbau untuk tidak ragu berkonsultasi langsung dengan tenaga ahli apabila keluhan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. (dan/ian)






