Ringkasan Berita:
- Permata Bank menggelar Permata CERITA 2026 dengan melibatkan lebih dari 500 relawan karyawan di 24 kota di Indonesia.
- Siswa SMP Dapena 1 Surabaya belajar membedakan kebutuhan dan keinginan, mengatur uang jajan, serta membangun kebiasaan menabung.
- Edukasi dikemas melalui permainan interaktif dalam Modul Finansial (MODAL), termasuk pengenalan penggunaan QRIS secara bertanggung jawab.
- Bank Indonesia Jawa Timur mengapresiasi edukasi keuangan sejak dini untuk membangun perilaku keuangan yang sehat dan meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko transaksi digital.
Surabaya (beritajatim.com) – Suasana ruang kelas SMP Dapena 1 Surabaya terasa berbeda pada Sabtu (17/10/2026). Alih-alih dipenuhi rumus matematika atau hafalan pelajaran, ruang kelas justru diramaikan tawa dan celetukan siswa saat belajar membedakan kebutuhan dengan keinginan. Mereka diajak memahami bahwa tidak semua barang yang menarik harus segera dibeli, terutama ketika uang yang dimiliki masih terbatas.
Di balik suasana belajar yang santai itu, belasan karyawan Permata Bank hadir sebagai pengajar. Karyawan yang sehari-hari berkutat dengan dokumen, transaksi keuangan, dan berbagai urusan perbankan tersebut beralih peran menjadi pendamping siswa untuk mengenalkan pengelolaan uang sejak dini.
Mereka merupakan bagian dari lebih dari 500 Employee Volunteers (EVO) Permata Bank yang terlibat dalam program tahunan Permata CERITA, singkatan dari Cinta dan Edukasi daRI kiTA, pada 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas edukasi keuangan bagi generasi muda melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Direktur Utama Permata Bank, Meliza M. Rusli, mengatakan perjalanan 24 tahun Permata Bank berjalan beriringan dengan perubahan kebutuhan masyarakat, termasuk dalam mengelola keuangan. Di tengah pesatnya transformasi digital, literasi keuangan dinilai semakin penting untuk membekali generasi muda agar mampu menggunakan layanan keuangan secara bijak.
“Melalui Permata CERITA, kami ingin menghadirkan pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, menyenangkan dan relevan bagi generasi muda. Kami berharap setiap kebiasaan kecil yang dibangun hari ini dapat menjadi fondasi bagi mereka untuk tumbuh menjadi generasi yang mandiri, bertanggung jawab dan percaya diri dalam merencanakan masa depan finansialnya,” ungkap Meliza M. Rusli.
Mengajarkan konsep keuangan kepada siswa berusia 12–15 tahun memiliki tantangan tersendiri bagi para relawan. Istilah perbankan yang lazim digunakan dalam pekerjaan sehari-hari perlu diterjemahkan menjadi bahasa yang mudah dipahami remaja, terutama mereka yang akrab dengan media sosial, belanja daring, dan berbagai layanan digital.
Salah satu relawan mengatakan, pendekatan yang digunakan harus sesuai dengan dunia siswa agar materi lebih mudah diterima. Dalam membahas konsep smart spending atau belanja bijak, misalnya, relawan menggunakan contoh yang dekat dengan keseharian mereka, mulai dari mengelola uang jajan hingga mempertimbangkan pembelian barang yang diinginkan.
“Gaya bahasanya tentu tidak bisa pakai istilah perbankan yang kaku. Kita harus masuk ke dunia mereka,” cerita salah satu relawan di sela-sela kegiatan.
“Ketika membahas smart spending, kita pakai contoh sehari-hari yang sangat dekat dengan mereka, seperti cara mengelola uang jajan, keinginan membeli game item atau merchandise, hingga menyisihkan tabungan,” imbuhnya.
Materi disampaikan melalui Modul Finansial (MODAL) yang dikemas dalam permainan interaktif. Dengan metode tersebut, siswa tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga diajak terlibat dalam simulasi pengambilan keputusan keuangan.
Mereka belajar menghadapi situasi ketika tergoda diskon di aplikasi digital, mempertimbangkan apakah suatu barang benar-benar dibutuhkan, serta memahami penggunaan pembayaran digital seperti QRIS secara bertanggung jawab. Melalui simulasi itu, siswa diajak mengenali pentingnya mengendalikan pengeluaran agar tidak terjebak perilaku konsumtif.
Edukasi juga mencakup keamanan transaksi digital. Para relawan memperkenalkan formula 3A, yakni Amati, Awasi, dan Adukan, untuk membantu siswa memahami langkah dasar dalam mengenali serta menyikapi aktivitas keuangan yang mencurigakan.
Siswa diingatkan untuk menjaga kerahasiaan informasi pribadi, termasuk kode OTP dan PIN. Mereka juga didorong untuk menceritakan kepada orang tua atau guru apabila menemukan aktivitas mencurigakan di perangkat digital yang digunakan.
Bagi para relawan, keterlibatan langsung dalam kegiatan pendidikan menjadi kesempatan untuk berbagi pengetahuan sekaligus memberikan kontribusi kepada masyarakat. Program ini juga bertepatan dengan perayaan 24 tahun Permata Bank yang dilaksanakan secara serentak di 24 kota di Indonesia.
Dukungan terhadap edukasi keuangan sejak dini juga disampaikan Kepala Divisi Implementasi Kebijakan Sistem Pembayaran dan Pelindungan Konsumen, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Christoveny. Ia menilai pemahaman mengenai pengelolaan keuangan diperlukan agar generasi muda mampu mengambil keputusan secara cerdas dan bijak.
“Mulai dari menggunakan uang sesuai kebutuhan dan kemampuan, membangun kebiasaan menabung, hingga memahami pentingnya berinvestasi melalui lembaga keuangan atau saluran resmi yang dapat dipercaya. Pemahaman ini juga merupakan bagian dari upaya mencintai dan menghargai Rupiah serta membangun perilaku keuangan yang sehat,” ungkapnya.
Christoveny juga mengapresiasi inisiatif Permata Bank melalui Permata CERITA yang turut memperluas edukasi keuangan bagi generasi muda. Menurutnya, kolaborasi antara industri jasa keuangan dan berbagai pemangku kepentingan perlu terus diperkuat agar pelajar semakin siap mengambil keputusan keuangan yang tepat serta menghadapi perkembangan layanan keuangan di masa depan.
Antusiasme siswa SMP Dapena 1 Surabaya dalam mengikuti kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa edukasi keuangan dapat disampaikan melalui pendekatan yang menyenangkan dan relevan. Pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari membantu siswa memahami bahwa mengelola keuangan bukan sekadar menghitung uang, melainkan juga mempertimbangkan prioritas, mengendalikan keinginan, dan mengenali risiko.
Kebiasaan sederhana seperti menyisihkan uang jajan, menabung secara rutin, serta menjaga kerahasiaan data saat bertransaksi digital dapat menjadi bekal bagi siswa dalam menghadapi lingkungan keuangan yang semakin kompleks. Melalui Permata CERITA 2026, edukasi tersebut diperkenalkan sejak bangku sekolah sebagai bagian dari upaya membangun generasi yang mandiri, bertanggung jawab, dan bijak dalam mengelola keuangan. [way/beq]






