Mulailah berkomitmen pada diri sendiri: berhenti menganggap “telat sedikit tidak apa-apa”. Memulai dari diri sendiri adalah kunci terpenting agar tidak terjebak dalam budaya “nanti juga orang lain telat”.
Surabaya (beritajatim.com) – Menteri Keamanan Ekonomi Jepang, Kimi Onoda, Jumat (6/3/2026), terlambat 5 menit hadir di rapat kabinet yang dipimpin Perdana Menteri. Rekaman video menunjukkan Onoda melompat keluar dari taksi sambil membawa tas tangan, lalu berlari, bergegas menuruni tangga menuju ruang rapat kabinet.
Pada saat yang hampir bersamaan, kamera juga merekam momen ketika Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, memasuki ruang rapat. Beberapa saat setelah para menteri mengambil tempat duduk, kamera menyorot kursi kosong Onoda.
Buat sebagian masyarakat kita, keterlambatan sudah langganan. Sudah jamak. Dan, Onoda punya alasan: terjebak kemacetan lalu lintas akibat kecelakaan.
Toh perempuan 43 tahun ini tidak menganggapnya lumrah. Maka ia buru-buru mengajukan permintaan maaf kepada publik. Padahal keterlambatannya hanya sekitar lima menit.
Peristiwa kecil itu mengirimkan pesan betapa ketatnya budaya disiplin dan ketepatan waktu di Jepang. Keterlambatan pejabat publik beberapa menit saja harus dipertanggungjawabkan.
Wakil Presiden
Orang awak sebenarnya juga memiliki budaya hormat terhadap waktu. Setidaknya Indonesia pernah memiliki tokoh-tokoh yang dikenal memiliki disiplin waktu tinggi, dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam menjalankan tugas negara.
Mohammad Hatta yang kondang disapa Bung Hatta dikenal sangat menghargai waktu. Wakil Presiden pertama RI ini rajin membaca dan taat pada jadwal.
Bung Hatta dikenal dengan kedisiplinan yang kaku namun teratur, bahkan saat berada dalam pembuangan oleh Belanda. Di pembuangan Banda Neira, Bung Hatta memiliki rutinitas tetap: bangun pukul 05.00 pagi, mandi, dan salat Subuh. Pukul 06.00 hingga 07.00 untuk membaca majalah sambil minum kopi. Kebiasaan membaca ini terjadwal rapi sepanjang hidupnya, termasuk saat menjadi Wakil Presiden.
Bung Hatta sangat benci penundaan. Konon, pernah ada duta besar asing yang terlambat datang dalam pertemuan, Bung Hatta menolak menemuinya karena sudah memasuki waktu jadwal membaca.
Tokoh lainnya BJ Habibie. Disiplin waktunya sangat tinggi. Boleh jadi dipengaruhi atau diperkuat oleh budaya kerja Jerman selama beliau menuntut ilmu dan bekerja di sana.
Habibie membagi waktunya dengan detail: 5 jam untuk tidur, 2 jam untuk salat, 1,5 jam membaca Al-Qur’an, 2 jam berenang dan mandi, 3 jam makan, dan 3 jam untuk menerima tamu. Sisa waktu 7,5 jam digunakan secara produktif untuk membaca, menulis, dan bekerja.
Habibie memandang waktu sebagai bentuk rasa syukur. Beliau tidak pernah membiarkan waktu terbuang sia-sia. Saat mengembangkan industri pesawat terbang, beliau menerapkan metode “Begin at the End and End at the Beginning”, sebuah metode kerja terukur untuk efisiensi waktu dan hasil.
Dua tokoh Indonesia itu sama-sama tidak suka menunda pekerjaan, sangat menghargai waktu orang lain, dan beribadah secara disiplin sebagai dasar kedisiplinan hidup mereka.
Eh, ada juga sih tokoh dari kepolisian. Beliau adalah Hoegeng Iman Santoso. Mantan Kapolri ini dikenal sangat disiplin dan jujur. Saking jujurnya saya ingin menulisnya: zuzur. Pak Hoegeng juga sangat disiplin dalam bertugas. Beliau tokoh teladan kedisiplinan dan integritas masyarakat Indonesia.
Jadi, kalau video Menteri Onoda berputar-putar di kalangan warganet Indonesia diiringi rasa kagum, sangat mungkin karena kita sudah “melupakan” Bung Hatta dan BJ Habibie. Dan masyarakat sudah lama tidak melihat contoh baik dari tokoh masa kini.
Membangun Kepercayaan
Kembali ke Jepang. Di Jepang, ketepatan waktu dianggap sebagai salah satu bentuk dasar penghormatan kepada orang lain. Sejak usia dini, masyarakat Jepang diajarkan untuk datang tepat waktu dalam berbagai kegiatan: di sekolah, pekerjaan, maupun pertemuan sosial.
Keterlambatan sering kali dipandang bukan hanya sebagai kesalahan pribadi, tetapi juga sebagai tindakan yang dapat merugikan orang lain. Budaya disiplin waktu juga tercermin dalam banyak aspek kehidupan, mulai dari jadwal kereta yang sangat presisi hingga disiplin dalam dunia kerja.
Disiplin waktu di tempat kerja, instansi pemerintahan, dan sektor pendidikan akan meningkatkan efisiensi. Dengan waktu yang terkelola, pekerjaan selesai tepat waktu. Bukan justru diulur supaya ada alasan lembur.
Bagian pentingnya adalah terbangunnya kepercayaan publik. Dalam kehidupan bernegara, disiplin waktu oleh aparatur negara (ASN, TNI, Polri) menciptakan kepercayaan masyarakat. Ketika layanan publik berjalan tertib dan tepat waktu, akuntabilitas pemerintah akan meningkat.
Disiplin waktu mendidik warga negara untuk taat pada peraturan dan menghargai janji atau aturan. Ini merupakan dasar dari kehidupan bermasyarakat yang tertib.
Bangsa yang warganya menghargai waktu akan lebih kompetitif secara global. Hal ini karena efisiensi waktu meminimalkan keterlambatan dan mempermudah pencapaian tujuan bersama, baik di sektor bisnis maupun birokrasi.
Dan jangan lupa, disiplin waktu yang diterapkan di sekolah-sekolah akan membentuk karakter generasi muda yang bertanggung jawab, menghargai waktu, dan memiliki etos kerja tinggi. Ini aset berharga bagi masa depan bangsa.
Jam Karet
Di lingkungan birokrasi Indonesia, perilaku datang terlambat pejabat sering kali dianggap biasa. Sikap menerima ini agaknya berakar pada lemahnya penegakan aturan dan lemahnya rasa malu. Fenomena ini, yang sering disebut sebagai “jam karet”, bukanlah sekadar masalah individu, melainkan patologi birokrasi.
Saya sedih mendengar ungkapan seorang tokoh bahwa budaya masyarakat Indonesia memang cenderung fleksibel terhadap waktu, dianggap dapat diregangkan. Kebiasaan ini terbawa ke dalam lingkungan kerja, keterlambatan dianggap lumrah dan dimaklumi.
Bukan tak ada aturan. Aturan disiplin ASN (seperti PP Nomor 94 Tahun 2021) sudah ada. Namun penerapannya sering kali lemah. Kurangnya ketegasan dalam sanksi membuat perilaku “sering terlambat” berulang.
Reformasi birokrasi sering terhambat oleh pola pikir birokrat yang belum sepenuhnya berorientasi pada pelayanan prima, melainkan pada rutinitas. Komitmen pimpinan yang rendah juga berkontribusi. Jika atasan tidak memberikan teladan kedisiplinan, bawahan akan cenderung mengikuti.
Membenahi budaya jam karet sebaiknya dimulai dari mengubah pola pikir diri sendiri untuk menghargai waktu dan menganggap janji temu sebagai komitmen serius, bukan hal yang fleksibel. Ini adalah fondasi utama sebelum menerapkan teknik manajemen waktu.
Faktanya, Indonesia pernah memiliki teladan tokoh dengan disiplin waktu yang tinggi. Fakta itu menunjukkan budaya jam karet bukan budaya kita. Maka sebutan “jam karet” jangan dibaca sebagai pujian. Itu penghinaan. Sudah waktunya kita berubah.
Mulailah berkomitmen pada diri sendiri: berhenti menganggap “telat sedikit tidak apa-apa”. Memulai dari diri sendiri adalah kunci terpenting agar tidak terjebak dalam budaya “nanti juga orang lain telat”.
Kita pernah punya transportasi kereta api yang sering ingkar janji. Lambatnya bisa sampai empat jam tanpa pemberitahuan. Masih OTW atau mogok. Kini kereta api kita sudah bisa diandalkan banget. Kesetiaannya memegang janji melebihi cinta sejati. Pesawat masih sering menunda.
Karena itu, kalau mau mulai belajar disiplin waktu, jangan belajar di bandara. Belajarlah di stasiun kereta api. Tepat waktu, bahkan sampai ke hitungan menitnya. (*)
Zainal Arifin Emka – Pengajar Jurnalistik






