Surabaya (beritajatim.com)— Gen Z tumbuh di tengah derasnya arus digital dan media sosial, dalam ruang yang serba cepat dan penuh distraksi. Di balik semangat eksplorasi dan kreativitasnya, generasi ini menghadapi tantangan serius: kehilangan arah, lemahnya akhlak, kecanduan gawai, hingga minimnya pendampingan dari orang tua yang sibuk.
Berangkat dari keresahan ini, sekelompok guru membentuk perkumpulan JALANIN (Jejak Langkah Pendidikan Indonesia), sebagai ruang kolaborasi para pendidik untuk mendampingi siswa secara lebih utuh—bukan hanya dalam aspek akademik, tetapi juga kehidupan sehari-hari.
Untuk memperkuat peran guru sebagai pendamping kehidupan, JALANIN menyelenggarakan Pelatihan Fasilitator Kehidupan bagi guru-guru se-Jawa Timur, yang digelar serentak pada 2–3 Agustus 2025. Kegiatan ini dilaksanakan di dua titik: BPPMP Jawa Timur di Surabaya (Zona Timur) dan BPPMP Malang (Zona Barat), serta diikuti 103 guru dari 33 kabupaten/kota.
Selain pelatihan, kegiatan ini juga menjadi momen pelantikan resmi JALANIN Wilayah Jawa Timur, yang dikukuhkan oleh Suryanto dan Puguh Sudarminto.
Pelatihan ini difokuskan pada upaya memahami dinamika Gen Z dan generasi Alpha. Para guru peserta diajak melihat siswa bukan sebagai “anak bermasalah”, melainkan individu muda yang sedang mencari jati diri.
“Anak zaman sekarang bukan tidak tahu arah, tapi seringkali tidak tahu siapa yang bisa mereka percayai. Di sinilah guru perlu hadir secara utuh,” ujar Andik Widodo, salah satu narasumber dalam pelatihan tersebut.
Para peserta juga diperkenalkan pada konsep executive function serta talent mapping, untuk membantu mereka mengenali potensi diri sendiri dan siswa yang mereka dampingi.
Berbeda dengan pelatihan konvensional, program ini diawali dengan delapan trip pembelajaran daring melalui Learning Management System (LMS). Setiap trip membahas tema-tema penting seperti tumbuh kembang anak, dinamika keluarga, kesehatan mental, serta nilai-nilai universal.
Sebagai syarat mengikuti sesi tatap muka, peserta diwajibkan menuntaskan semua trip dan menulis esai reflektif mengenai peran mereka dalam pendidikan di sekolah masing-masing.

Pelatihan Fasilitator Kehidupan juga menjadi bagian dari dukungan terhadap Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH), program prioritas dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang saat ini dipimpin Menteri Abdul Mu’ti.
Gerakan ini mendorong anak-anak membangun kebiasaan hidup sehat dan bertanggung jawab sejak dini, mulai dari bangun pagi, beribadah, makan bergizi, hingga tidur tepat waktu.
“Kalau kita ingin punya generasi yang kuat secara karakter, kita mulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari,” kata Puguh Sudarminto, koordinator kegiatan.
Program ini menargetkan lahirnya guru-guru yang mampu mendampingi siswa secara utuh. Selain menguatkan kemampuan regulasi diri, para peserta juga dibekali penguatan nilai-nilai kebangsaan: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Pendekatan pembelajaran pun dibuat kontekstual dan transformatif, melibatkan simulasi kehidupan nyata, ruang ekspresi terbuka, aktivitas sosial, serta model pembelajaran khas orang dewasa.
Kegiatan-kegiatan alternatif seperti pramuka, science club, kesenian, olahraga, organisasi, hingga bimbingan belajar juga diperkenalkan sebagai bentuk pendampingan non-akademik.
Sebagai identitas visual, perkumpulan JALANIN memilih warna sage sebagai simbol pergerakan. Warna ini menggambarkan ketenangan, kelembutan, namun tetap teguh—mewakili pendekatan mendampingi tanpa menghakimi, membimbing dengan empati, dan menegakkan nilai dengan konsistensi.
“Kami percaya, pendidikan bukan soal siapa paling tahu, tapi siapa yang paling peduli. Lewat pendekatan yang tenang tapi konsisten, kami ingin membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas, tapi juga berkarakter,” ujar Saihur Roif salah satu fasilitator kehidupan senior.
Melalui gerakan ini, para guru berupaya menjalani peran baru mereka: bukan hanya mengajarkan jalan, tapi berjalan bersama siswa, sebagai fasilitator kehidupan. [fiq/beq]

as a preferred source on Google




