Blitar (beritajatim.com) – Protes jalan rusak di Kabupaten Blitar menyeruak ke publik. Kali ini masyarakat Kecamatan Wonodadi yang menamakan diri Kelompok Sadar Healing (Pokdarling) melakukan protes atas kerusakan jalan yang ada di Desa Rejosari.
Kelompok masyarakat tersebut menjadikan jalan rusak di desanya sebagai tempat wisata Water Park. Papan nama water park tersebut dipasang tepat di samping jalan yang rusak.
Oleh warga, jalan rusak tersebut diberi nama Water Park Wonodadi. Uniknya dalam papan nama itu dijelaskan fasilitas yang ada di tempat wisata tersebut. Adapun fasilitas yang ada di water park Wonodadi itu adalah mandi lumpur, jeglongan kejut, kolam renang, mancing ikan 24 jam, outbond jungkir balik, free Betadine.
Dan berikut tulisan yang ada di banner papan nama Water Park Wonodadi.
Telah dibuka wisata waterpark Wonodadi
Fasilitas : mandi lumpur, jeglongan kejut, kolam renang, mancing ikan 24 jam, outbond jungkir balik, free Betadine”
“dalam rangka meningkatkan ekonomi masyarakat dan mengurangi beban APBD Kabupaten Blitar”.
Di bagian bawah banne, bertanda-tangan Pokdarling (kelompok sadar healing).
Papan nama ini pun menarik perhatian setiap pengendara yang melintas di jalan tersebut. Pasalnya pengendara yang melintas mengira bahwa papan nama itu nyata adanya. Namun setelah diperhatikan lebih seksama Water Park Wonodadi itu adalah bentuk sindiran atas kerusakan jalan yang tak kunjung diperbaiki oleh Pemerintah Kabupaten Blitar.
[berita-terkait number=”5″ tag=”jalan-rusak”]
Kondisi kerusakan jalan di desa Rejosari Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar memang parah. Jarak antara lubang satu dengan lubang berikutnya sangat pendek. Ukuran kedalaman lubang bervariasi, namun cukup membahayakan pengendara terutama roda dua jika kondisi hujan. Karena jalanan yang berlubang akan tertutup air hujan, sehingga berpotensi membuat roda terjerembab cukup dalam.
Dengan kondisi jalan seperti itu, benar saja jika pengendara akan mendapat fasilitas jeglongan kejut, hingga terjungkir balik dari sepeda motor. Dan akhirnya mendapat Betadine gratis dari warga sekitar lokasi jatuhnya pengendara.
Wiwik, salah satu warga yang rumahnya di depan banner terpasang mengaku tidak tahu siapa yang memasang banner itu. Namun dia menyetujui jika cara ini memang efektif untuk didengar dan mendapat respon dari Pemkab Blitar.
Masalahnya, jalan rusak itu sudah lama dikeluhkan warga. Memang Pemkab Blitar sempat memperbaikinya. Namun hitungannya hanya beberapa bulan, kondisi jalan kembali rusak.
Menurut Wiwik, selain saluran air yang dibangun tidak tepat posisinya, jalan alternatif Blitar-Kediri dan Blitar-Tulungagung ini padat oleh truk dengan tonase besar.
“Sampean lak dadi wong kene ra iso turu. Awak horek kabeh lak truk tebu, truk pasir gantian liwat. (Anda kalau jadi orang sini tidak akan bisa tidur. Badan bergerak semua kalau ada truk tebu, truk pasir gantian liwat),” keluh Wiwik, Minggu (5/3/2023).
Sedangkan Kepala Desa Wonodadi, Mahmudi mengatakan, bukan kewenangan pihak desa untuk melakukan perbaikan jalan. Pasalnya jalanan yang rusak merupakan jalan kabupaten. Namun Mahmudi mengaku tidak tinggal diam.
“Kami tidak diam saja. Saat Musrenbang Kecamatan, kami sudah sampaikan agar jalan tersebut segera diperbaiki. Selain itu kami juga terus koordinasi dengan Dinas PUPR agar bisa terealisasi secepatnya,” tandasnya.
Kepala Bidang Bina Marga PUPR Kabupaten Blitar, Hamdan Zulfikri Kurniawan menjelaskan, paket perbaikan ruas jalan Wonodadi-Njemekan sudah terdaftar di proyek tahun 2023 ini. Karena perencanaan pembangunan ruas jalan ini sejak Desember 2022 lalu. Namun berapa panjang jalan yang akan diperbaiki dan berapa anggaran yang disiapkan, Hamdan mengaku tidak hafal. “Karena sekarang untuk hotmix memakai metode e-katalog. Ini sudah proses inisiasi pengadaan,” pungkasnya.
Selain di Wonodadi, warga Dusun Blumbang, Ngembul Kecamatan Binangun malah menebar 30 Kg lele hidup di lubang jalanan yang rusak beberapa waktu yang lalu. Langkah ini dilakukan warga desa Ngembul sebagai bentuk protes atas kerusakan jalan yang tak kunjung dapat perbaikan.
Gelombang protes atas kerusakan jalan di Kabupaten Blitar saat ini memang tengah menyeruak publik. Masyarakat dari berbagai daerah menyuarakan bentuk protesnya atas kerusakan jalan yang telah terjadi selama beberapa tahun terakhir. Masyarakat kini menunggu janji nyata dari Bupati Blitar yang akan memperbaiki infrastruktur jalan terutama di wilayah Blitar Selatan. (owi/kun)






