Surabaya (beritajatim.com) – Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. La ilaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar wa lillahil hamdu. Kumandang takbir merayakan momen Idul Adha 2023 bergema di seluruh penjuru kota Surabaya. Tak terkecuali di Jalan Kunti. Namun, momen Idul Adha 2023 di Jalan Kunti sedikit berbeda. Dua pemuda Jalan Kunti Surabaya terkapar tepat di depan rumah dekat Mushola.
Dua pemuda itu terus meringis kesakitan sembari menahan sakit di perutnya. Matanya kunang-kunang, mereka sudah membayangkan malaikat kematian akan menjemput usai menerima tusukan pisau dari pelaku yang masih saudara kandung korban berinisial SL.
“Korban Faisal adalah pemuda yang selalu mengumandangkan Adzan di setiap sholat. Ia adalah sosok baik yang peduli dengan tetangganya,” ujar Sri, salah satu tetangga korban.
Aksi berdarah terjadi di Jalan Kunti Gang 2, Semampir, Surabaya, Kamis (29/06/2023) sekitar pukul 04.45 pagi tepat usai Faisal sholat Jamaah di Mushola samping rumahnya. Warga Jalan Kunti tidak akan mendengarkan kembali lantunan Adzan yang dikumandangkan Faisal.
Bapak satu anak itu akhirnya tewas dengan dua luka tusuk di perut. Selain Faisal, pelaku SL juga sempat menusuk keponakannya sendiri Harianto (19). Beruntung, Harianto kondisinya lebih stabil dan lolos dari maut. Kini ia masih menjalani pemulihan di RS Soewandi.
Maya, salah satu keluarga dari korban dan pelaku menjadi orang yang paling kuat untuk menceritakan kembali peristiwa naas pada momen Idhul Adha 2023 di Jalan Kunti Surabaya. Mata sembabnya tak bisa disembunyikan, sesekali wawancara berhenti karena isak tangis Maya tak dapat dibendung. “SL pada pagi itu, secara tiba-tiba pulang ke rumah. Dia anak keempat dari lima bersaudara. Faisal ini adiknya,” ujar Maya mengawali perbincangan.
Tak ada yang menduga jika kehadiran SL di rumah Jalan Kunti Surabaya itu untuk meminta uang kepada ibunya yang sudah tua renta. Lantaran tak kunjung diberi, SL marah-marah. Ia mengumpat ibu kandungnya. Teriakan itu didengar oleh seluruh jamaah di Mushola. Wajar, posisinya memang bersebelahan.
Lepas Sholat Subuh, Faisal tak sempat berdzikir. Ia langsung menghampiri rumah dan meminta agar SL tenang. Bapak yang masih mempunyai anak berumur 5 bulan itu lantas membentak SL dan menariknya keluar rumah. Tak terima, SL mengeluarkan pisau yang tak tahu diambil dari mana. “Faisal dapat dua tusukan, sempat guling-guling karena berantem. Saat berantem itu, Harianto yang juga masih keluarga melihat dan berniat melerai,” imbuh Maya.
Wawancara terhenti, Maya melihat telapak tangannya sambil menengadah keatas. Ia lalu menangis. Maya teringat, kedua tangannya sempat memeluk Faisal yang masih bersimbah darah. Sekitar 20 menit terhening, akhirnya Maya kembali melanjutkan cerita.
Harianto yang semula berniat memisah, malah kena tusukan pisau. Ia juga terkapar. SL lantas kabur. Maya yang sedari tadi di dalam rumah lantas keluar. Ia melihat, dua orang sudah terkapar dengan darah yang terus keluar. Ia pun meminta pertolongan warga.
BACA JUGA:
Kakak Tusuk Adik Hingga Meninggal di Jalan Kunti Surabaya
“Sempat dibawa ke RS Soewandhi. Namun, karena lukanya parah, Faisal dirujuk kembali ke RSUD dr. Soetomo. Namun, setelah menjalani perawatan, Faisal meninggal dunia. Dia meninggalkan satu istri dan anaknya yang masih berumur 5 bulan,” tutur Maya.
Kini, Maya telah melaporkan kejadian penusukan di Jalan Kunti Surabaya itu ke Polsek Semampir. Ia berharap SL segera ditangkap. Walaupun SL dianggap gila oleh keluarga karena sering tertangkap basah berbicara sendiri dan marah-marah tanpa alasan yang jelas.
Kini, tak ada lagi kumandang Adzan dari suara merdu Faisal yang menggema di Jalan Kunti Surabaya. Termasuk panggilan sayang dari Faisal kepada anaknya yang masih berumur 5 bulan. (ang/kun)






