Jakarta (beritajatim.com) – Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus menggenjot modernisasi sektor pertanian guna meningkatkan efisiensi dan menjaga ketahanan pangan nasional. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah penyaluran berbagai alat dan mesin pertanian (alsintan) secara masif kepada kelompok tani di sejumlah daerah sentra produksi, seperti Kabupaten Lamongan, Ngawi, dan Madiun.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan bahwa penggunaan alat modern, terutama combine harvester, telah mengubah pola kerja petani secara drastis. Jika sebelumnya proses panen manual membutuhkan waktu hingga tiga hari untuk satu hektare lahan, kini pekerjaan serupa dapat diselesaikan hanya dalam waktu satu jam.
“Panen dengan cara manual itu tiga hari satu hektare, kalau pakai combine harvester di tanah yang seperti ini bisa satu jam per hektare,” tegas Khofifah saat meninjau bantuan alsintan di Desa Kedali, Kecamatan Pucuk, Lamongan, beberapa waktu lalu.
Selain memangkas durasi kerja, mekanisasi ini dinilai mampu menekan angka kehilangan hasil panen secara signifikan. Pemerintah daerah memproyeksikan potensi penurunan kehilangan gabah dari kisaran 9–11 persen menjadi hanya 1–2 persen, meskipun capaian aktual tetap bergantung pada keterampilan operator serta kondisi lahan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi Jawa Timur pada 2025 mencapai 10,43 juta ton gabah kering giling. Capaian ini didorong oleh peningkatan luas panen yang mencapai 1,84 juta hektare, yang kemudian diperkuat dengan kebijakan modernisasi alsintan untuk menjaga keberlanjutan hasil pada 2026.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur, Heru Suseno, menambahkan bahwa bantuan alsintan bertujuan memperkuat efisiensi produksi di tingkat petani. Pihaknya kini juga mulai mengintegrasikan penggunaan drone pertanian untuk aplikasi input yang lebih presisi dan terukur.
Secara keseluruhan, Pemprov Jawa Timur mengalokasikan 341 unit alsintan sepanjang 2026. Fokus pemerintah kini beralih pada pengelolaan operasional yang efektif melalui kelompok tani agar manfaat mekanisasi dapat dirasakan secara merata dan berkelanjutan oleh seluruh petani kecil.
Modernisasi ini juga harus didukung dengan integrasi teknologi digital, seperti Internet of Things (IoT) dan kecerdasan artifisial, untuk memantau kesehatan lahan. Menurut Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, IoT dan kecerdasan artifisial adalah teknologi baru yang harus kita manfaatkan agar memberikan dampak langsung terhadap produktivitas masyarakat.
“Sinergi antara mekanisasi fisik dan kecerdasan digital akan menciptakan ekosistem pertanian yang jauh lebih presisi,” ujarnya.
Keberhasilan kebijakan ini pada akhirnya bergantung pada sinkronisasi antara pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan ketersediaan infrastruktur irigasi. Percepatan masa tanam hanya bisa diwujudkan jika pasokan air tersedia secara konsisten setelah lahan dipanen.
“Tanpa dukungan irigasi dan pendampingan penyuluh, mesin-mesin canggih hanya akan menjadi aset yang kurang optimal bagi para petani,” katanya.
Sementara itu, bagi Agus Purwanto, salah seorang petani penerima manfaat di Lamongan, kehadiran mesin membawa angin segar bagi efektivitas usahanya. Ia merasakan pekerjaan menjadi jauh lebih ringan dan biaya operasional lebih terkendali dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. (kun)






