Malang (beritajatim.com) – Menjadi DPTb atau Daftar Pemilih Tambahan dalam kontestasi pemilihan umum 2024 tidak sulit dan tidak juga mudah. Putri Rizky Utami mahasiswa asal Muara Enim, Sumatera Selatan, yang pindah pilih ke TPS 3 Merjosari, merasa persoalan administratifnya tidak sulit dan tidak juga mudah.
“Awalnya saya pikir akan dipersulit dalam administrasi dan segala hal. Tetapi, kenyataan di lapangan tidak sesulit dan tidak semudah itu. Banyak lika-liku selama prosesnya, terutama pencarian informasi yang sebagian teman tidak peduli akan pemilu ini,” ujar mahasiswa semester akhir di Universitas Islam Malang ini.
Putri mengalami dua hambatan saat menjadi DPTb. Pertama, pencarian lokasi TPS yang kurang jelas dari sistem informasi DPT Online. Kedua, masa tunggu antrian yang baru dibuka jam 11.00 bagi masyarakat yang pindah memilih.
“Saya harap ada sosialisasi oleh RT/RW bagi para siswa maupun mahasiswa yang pindah memilih. Saya harap juga ada fasilitas administrasi online yang lebih mudah dan terjangkau bagi orang yang ingin pindah memilih,” ujar Putri Rizky kepada beritajatim.com, Rabu (14/2/2024).
Hal senada disampaikan Nadia Rantika, mahasiswa asal Lampung yang menjadi DPTb di TPS 018 Merjosari, kota Malang. Nadya merasa seru sekaligus senang karena pertama kali memiliki pengalaman pindah pilih di kota Malang.
“Salah satu keluhan saya saat mencoblos didahulukan warga lokal baru DPTb sehingga perlu menunggu. Namun, karena kita memang tambahan dan pindahan, jadi itu tapi tidak masalah karena saya tetap merasa senang,” ungkap Nadya, mahasiswa semester akhir dan duta kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.
Tak lupa, perempuan berusia 22 tahun tersebut mengucapkan terimakasih pada seluruh petugas, khususnya KPU kota Malang. Ia harus melakukan pindah pilih karena dua alasan. Pertama, tempat tinggal asalnya di Lampung yang sangat jauh dari kota Malang. Kedua, karena dalam beberapa hari datang kampus UIN Malang sudah aktif kuliah.
“Ternyata mengurus perpindahan ternyata tidak yang seribet yang saya bayangkan. Saya harap siapapun yang terpilih sebagai presiden dan wakil presiden, kelak bisa memimpin Indonesia jadi lebih baik,” tutup Nadya yang juga menjadi duta santri nasional tersebut.
Hal berbeda disampaikan, Raihan Dafa, mahasiswa asal Bontang, Kalimantan Timur, yang merasa keberadaan DPTb sangat membantu untuknya turut ambil bagian dalam pesta demokrasi di Indonesia. Mahasiswa Universitas Negeri Malang itu baru pertama kali ikut menjadi pemilih aktif dalam pesta demokrasi.
“Bagi saya tak ada alasan bagi Raihan untuk golput. Ini adalah momen penting karena bisa ikut mendukung proses demokrasi meskipun tidak memilih secara langsung di daerah asal. Saya rasa KPU sudah memberikan kemudahan bagi warganya untuk mengurus pindah pilih, jadi tidak ada alasan golput,” ungkap Raihan yang memilih di TPS 012, kelurahan Gading Kasri, kota Malang.

Raihan merasa bangga karena bisa berkontribusi langsung dalam menentukan arah pemerintahan. Sebagai warga negara Indonesia, mahasiswa asal Bontang ini merasa pindah pilih ini adalah momen penting karena bisa ikut andil menentukan masa depan Indonesia.
“Ini pengalaman nyoblos pertama saya di luar daerah asal. Setelah mengikuti pemilu hari ini saya bangga karena bisa berkontribusi langsung dalam menentukan arah pemerintahan melalui hak suara. Ini momen penting karena bisa ikut andil menentukan masa depan Indonesia,” ujar Raihan.
Sementara itu, salah satu petugas keamanan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 018 Merjosari, mengaku para pemilih DPTb banyak didominasi mahasiswa. TPS 018 Merjosari Lowokwaru , kota Malang memang banyak DPTb, terutama mahasiswa yang berasal dari luar pulau Jawa.
“Sejauh ini alhamdulillah lancar, tidak ada keluhan. Di TPS 18 kami mendahulukan warga sekitar dulu atau DPT , kemudian DPK, baru DPTb. Untuk DPTb kita himbau agar datang di atas jam 11, sekitar jam 12an lebih,” ungkap Hari Santoso, keamanan TPS 18. (dan/ted)






