Ponorogo (beritajatim.com) – Dewi Astutik, warga Ponorogo yang menjadi buronan sabu 2 ton, diduga kuat bagian dari jaringan narkoba internasional pimpinan Fredy Pratama. Namanya juga sudah masuk red notice Interpol.
Red notice tersebut menjadi dasar penyidikan bersama. Kepolisian bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN), Dewi pun resmi jadi buronan tingkat global. “Dari kasus penangkapan sabu 2 ton itu, dari hasil investigasi awal, ya memang masih satu jaringan dengan Freddy Pratama,” kata Kapolres Ponorogo, AKBP Andin Wisnu Sudibyo, ditulis Jumat (30/5/2025).
Dugaan kuat, bahwa Dewi kini di luar negeri. Yang bersangkutan disebut sudah menjadi pekerja migran selama lebih dari 10 tahun. Lokasi terakhir yang terdeteksi berada di negara Kamboja. “Yang bersangkutan disinyalir di Kamboja. Namun, dia memakai identitas palsu. Identitas di KTP ternyata milik adiknya,” ungkap AKBP Andin Wisnu.
Kabar keterlibatan Dewi dalam sindikat narkoba internasional, mengejutkan warga Kecamatan Balong. Perempuan ini disebut berasal dari Dusun Sumber Agung, RT 001/001, Desa/Kecamatan Balong. Namun, nama itu tidak ditemukan dalam data resmi. “Di sini memang Dusun Sumber Agung, tetapi di RT 001/001 tidak ada warga yang namanya Dewi Astutik,” jelas kepala Dusun Sumber Agung, Gunawan.
Namun, foto Dewi di media sosial mengungkap petunjuk lain. Warga mengenali sosok itu sebagai PR. Perempuan tersebut diketahui sudah lama menjadi PMI. “Kalau namanya Dewi Astutik tidak ada di sini. Tapi kalau yang difoto seperti orang sini yang saat ini bekerja di luar negeri,” kata Sri Wahyuni, warga setempat. (end/kun)






