Surabaya (beritajatim.com) – ITS Surabaya mengukuhkan 6 profesor atau guru besar baru pada Rabu (10/5/2023). Keenam profesor tersebut diharapkan bisa semakin membawa kemajuan bagi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Rektor ITS Prof Mochamad Ashari berharap bahwa jumlah profesor di ITS akan terus bertambah dan semakin produktif dalam menghasilkan publikasi ilmiah. “Pada awal 2022, meskipun jumlah profesor di ITS terbilang sedikit dibanding kampus lain, namun produktivitas yang dihasilkan oleh para profesor ITS ini cukup tinggi dan membanggakan,” ujarnya.
Mengawali prosesi pengukuhan, Prof Ali Masduqi yang dikukuhkan sebagai profesor membuka dengan orasi ilmiahnya bertajuk Implementasi Smart Water Supply Systems untuk Meningkatkan Pelayanan Air Minum yang Prima.
BACA JUGA:
https://beritajatim.com/pendidikan-kesehatan/tim-nawasena-its-surabaya-juara-desain-kapal-feri-di-amerika/
Berupa supervisory control and data acquisition (SCADA), ia mengungkapkan bahwa sistem cerdas ini berfungsi untuk memantau dan melaporkan kualitas air baku hingga air yang telah didistribusikan ke pelanggan secara real time. “Sehingga setiap terjadi abnormalitas kualitas, sistem dapat mengambil keputusan secara langsung,” jelasnya.
Kemudian Prof Bambang Widjanarko Otok memaparkan orasi ilmiahnya berjudul Analisis Multivariat untuk Mengatasi Heterogenitas yang Tidak Teramati. Analisis multivariat yang dikembangkannya ini merupakan teknik Structural Equation Modelling (SEM) yang mampu memodelkan data dengan heterogenitas tidak teramati dengan hasil yang valid. “Hasil yang dianalisis dapat digeneralisasi pada tingkat data agregat,” tuturnya.
Selanjutnya, Prof Eddy Setiadi Soedjono memaparkan orasi ilmiahnya dengan judul Percepatan Pemenuhan Pengelolaan Air Limbah Permukiman di Indonesia. Melalui topik tersebut, ia berfokus pada upaya mengakselerasi pembangunan jamban sehat dalam untuk sanitasi yang lebih baik.
Melalui penelitiannya, dia mengusulkan adanya daur ulang fosfor yang dihasilkan dari limbah tinja rumah tangga. “Saya melihat adanya potensi tinggi agar cadangan fosfor dapat diperpanjang,” ujarnya.
Lalu Prof Eng Chastine Fatichah dengan orasi bertajuk Generative AI: Teknik, Peran, dan Tantangan. Dia mengembangkan teknik deep learning sebagai generative AI pada kecerdasan buatan untuk berbagai tujuan.
Di antaranya adalah menghasilkan model prediksi tingkat keparahan penyakit dengan citra medis hingga memulihkan foto lama atau rusak akibat kehilangan piksel dengan lebih stabil dan akurat. “Selain itu, teknik ini juga dapat membantu pelaporan medis dengan tingkat kekeliruan yang rendah,” ungkapnya.
Berikutnya, Prof Ratna Ediati menjelaskan orasi ilmiahnya dengan topik Peran Material Berpori Metal-Organic Frameworks (MOF) dalam Mendukung Pelestarian Lingkungan. Ia menggagas MOF sebagai adsorben yang ramah lingkungan.
Dengan memodifikasi MOF melalui sintesis kitosan dan magnetik dengan metode green synthesis, perempuan berkacamata ini berhasil ciptakan MOF dengan kapasitas adsorpsi yang tinggi. “Adsorben untuk mengadsorpsi polutan ini dapat digunakan berulang kali,” terangnya.
Orasi ilmiah terakhir disampaikan Prof Sumarno Mengyang dengan topik Pemrosesan Polimer Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. Ia menggagas polimer ramah lingkungan dengan metode sonikasi, high shear mixing, dan hydrothermal.
Dosen kelahiran Lumajang ini mengungkapkan bahwa polimer ini dapat dibuat dari sisa hasil alam, baik dari sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, hingga peternakan. [ipl/kun]






