Malang (beritajatim.com) – Sebagaimana lazimnya, Kayutangan selalu ramai di malam hari. Denyut nadi pariwisata di Kota Malang itu memang selalu kencang saat hari mulai gelap.
Kayutangan, sebuah sudut yang menawarkan romantisme tempo dulu itu memang digadang untuk jadi magnet bagi pecinta pelesir. Tak hanya kini, bahkan saat kawasan tersebut mulai dibangun. Lalu menjelma menjadi wajah baru Malang nan eksotis.
Cita-cita Pemerintah Kota Malang tampaknya berhasil. Kayutangan pun berubah total. Dulu berisik dengan deru kendaraan bermotor, kini riuh dengan obrolan dan canda dari para pengunjung.
Kayutangan pun menjelma sebagai wajah baru Kota Malang. Menjadi benchmark terkini dari Kota Apel. Bahkan sukses mendiskreditkan wilayah lain seperti Kawasan Jalan Sudimoro, Jalan Soehat (Soekarno-Hatta), maupun Dau yang dulu jadi pusat keramaian.
Namun, saya justru menemukan ironi. Di balik gemerlap Kayutangan, justru muncul ancaman bagi pengusaha lokal. Bayangkan, Anda dapat dengan mudah menjumpai brand-brand coffee shop mapan skala nasional bahkan dunia. Sebut saja Fore, Calf, Kenangan, dan sejumlah brand lain.
Namun, jika Anda ingin menikmati suguhan dari coffee shop lokal, itu bisa jadi pekerjaan rumah sendiri. Betapa sulitnya menemukan merek lokal seperti Hayama Coffee, Cus Cus, atau Mad Baker, terselip di antaranya. Jikapun ada, pemiliknya tentu dari golongan kantong besar.
Pertanyaannya pun menggantung: mampukah brand lokal Malang bertahan di tengah gegap gempita raksasa nasional ini?
Zainullah, yang akrab disapa Inonk, founder salah satu coffee shop lokal di Malang, tidak menampik tantangan tersebut. Menurutnya, pertarungan ini adalah soal kekuatan sumber daya.
“Untuk dominasi dari brand besar, tentunya yang menjadi tantangan utama adalah kekuatan modal dan tim yang solid,” ujar Inonk saat berbincang dengan beritajatim.com baru-baru ini.
Lalu, dengan apa brand lokal melawan? Inonk menegaskan bahwa senjata utama mereka adalah keunikan yang tidak bisa ditiru.
“Pembeda utamanya tentu dari produk yang pasti memiliki perbedaan. Tapi yang paling utama adalah vibes (suasana) yang kami bangun di outlet. Itu hal yang paling membedakan,” jelasnya.
Vibes yang dimaksud adalah pengalaman personal dan kedekatan yang ditawarkan. Ini dibangun melalui strategi sederhana namun esensial: komunikasi dua arah dan hospitality yang tulus. Bagi Inonk, menjaga loyalitas pelanggan bukan sekadar transaksi, melainkan membangun relasi.
“Untuk menjaga kedekatan dengan komunitas, kuncinya adalah membangun komunikasi dua arah. Ini yang membuat pelanggan merasa menjadi bagian dari kami, bukan sekadar konsumen,” tambahnya.
Salah satu bukti nyata bahwa brand lokal mampu tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang adalah Mad Baker. Terletak tak jauh dari pusat keramaian, kafe ini menjadi contoh sempurna bagaimana kreativitas dan riset pasar menjadi kunci kemenangan.
Ian, salah satu barista di Mad Baker, mengungkapkan rahasia dapurnya. Menurutnya, sang pemilik sangat kreatif dan fleksibel dalam mengikuti tren, bahkan seringkali mendahuluinya.
“Nggak hanya ikut tren, kami juga punya riset pasar tersendiri. Misalnya saat ramai coklat Dubai Pistachio, sebelum viral kami sudah jualan. Eh, kok pas viral, yang beli di sini sampai membludak,” kenang Valliant, nama lengkap sang barista.
Kreativitas ini bukan kebetulan. “Kerennya, sebelum kami jual coklat Dubai, beberapa bulan sebelumnya owner kami sempat liburan ke sana (Dubai). Jadi risetnya langsung dari sumbernya,” ujarnya bangga.
Fleksibilitas menu juga menjadi andalan. Setiap momen penting, seperti Hari Kemerdekaan, selalu ada menu edisi khusus yang disiapkan. Kunci suksesnya, menurut Ian, adalah “kecocokan antara owner dengan chef yang mampu merepresentasikan ide-ide brilian.”
Hasilnya pun nyata. “Dulu Mad Baker nggak seluas ini, awalnya cuma satu rumah saja. Namun, berkat kreativitas tim dan kekuatan riset pasar, kami terus berkembang,” katanya.
Bahkan, pasarnya kini telah menembus batas negara. Ian mengaku setiap akhir pekan, selalu ada turis mancanegara yang berkunjung, terutama dari Eropa.
“Kadang saya tanya, mereka kebanyakan dari Eropa. Ada Jerman, ada juga Prancis. Penamaan ‘Mad Baker’ yang berbahasa Inggris mungkin jadi salah satu pemicunya,” tuturnya.
Menghadapi kepungan raksasa, Inonk percaya bahwa brand lokal tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi menjadi sebuah kebutuhan strategis. “Untuk kolaborasi antar brand lokal, itu sangat butuh. Di situ pasti ada pertukaran market dan bisa memperkuat komunitas bersama,” tegasnya.
Pada akhirnya, pertarungan ini adalah tentang menjaga keseimbangan. “Kita harus tetap pada pondasi brand, mau arahnya ke mana. Mau membangun idealisme produk atau idealisme bisnis. Keduanya harus seimbang, karena terlalu idealis pada produk tapi tidak memperhatikan putaran bisnis juga tidak baik,” kata Inonk bijak.
Visi brand lokal Malang pun tak main-main. Mereka tidak hanya ingin bersaing di tingkat lokal atau nasional. “Tentunya pasti ada visi panjang ke depan, tidak hanya bersaing secara lokal maupun nasional, tapi juga secara global,” pungkasnya.
Perjuangan brand lokal Malang adalah cerminan dari pertarungan serupa di banyak kota lain di Indonesia. Mereka mungkin kalah dalam modal, tapi mereka menang dalam jiwa, kreativitas, dan kedekatan yang tulus menjadi aset yang tak akan pernah bisa dibeli oleh korporasi sebesar apa pun. [dan/beq]







