Surabaya (beritajatim.com) — Suasana haru menyelimuti Stadion Gelora Bung Tomo usai pertandingan terakhir Persebaya Surabaya musim 2024/2025.
Semua mata tertuju pada sosok Muhammad Hidayat, gelandang tangguh yang telah sembilan tahun setia membela Bajul Ijo. Momen emosional ini pun menjadi saksi bisu perpisahan yang penuh historis.
Begitu peluit panjang dibunyikan, para pemain Persebaya membentuk barisan di tengah lapangan. Satu per satu, mereka memberikan pelukan hangat kepada Hidayat, yang sejak 2017 telah mencatatkan 161 penampilan resmi bersama tim.
Namun ada dua sosok yang mencuri perhatian—Irfan Jaya dan Sidik Saimima, rekan satu angkatan Hidayat yang turut membawa Persebaya kembali ke Liga 1 pada 2018.
“Saya bangga pernah satu tim dengan Dayat. Dia bukan hanya pemain hebat, tapi juga simbol loyalitas,” ungkap Irfan Jaya singkat, sambil memeluk erat sahabat lamanya, Jumat (23/5/2025).
Tangis haru pecah ketika layar stadion menayangkan video kenangan kebersamaan Hidayat dengan tim—dari masa awal di Karanggayam hingga perjuangannya pulih dari cedera di akhir musim lalu.
Kebersamaan itu juga ditandai dengan penyerahan cendera mata spesial: jersey Persebaya dalam bingkai akrilik, diserahkan langsung oleh asisten pelatih Uston Nawawi bersama kapten Bruno Moreira. Tepuk tangan riuh mengiringi prosesi itu.
Tak hanya dari tim, penghormatan datang pula dari tribun. Beberapa Bonek membentangkan bendera besar bertuliskan “Hidayat 96”, sebagai bentuk apresiasi dan terima kasih atas dedikasinya selama ini.
“Dayat adalah simbol kesetiaan bagi kami. Dia datang saat Persebaya baru bangkit, dan dia tetap tinggal meski banyak yang pergi,” ujar salah satu suporter dengan mata berkaca-kaca.
Hidayat pun tak bisa menyembunyikan emosinya. Di tengah lapangan, ia bergabung dengan rekan-rekannya menyanyikan Song for Pride, lagu kebanggaan yang mengiringi setiap perjuangan mereka di lapangan.
Meskipun belum sempat tampil musim ini akibat cedera, Hidayat kini sudah pulih sepenuhnya. Namun keputusan untuk berpisah diambil demi masa depan kariernya.
“Saya ingin bermain lebih banyak musim depan. Mungkin itu tak bisa saya dapatkan di sini. Tapi Persebaya akan selalu di hati,” kata Hidayat penuh haru.
Dengan langkah mantap dan mata yang berkaca, Hidayat meninggalkan lapangan yang selama hampir satu dekade menjadi rumahnya. Namun bagi Persebaya dan Bonek, namanya akan selalu tertulis sebagai legenda. (ted)






