Mojokerto (beritajatim.com) – Gerakan Literasi Pesantren jauh lebih tua daripada gerakan literasi modern. Bahkan sebelum Indonesia merdeka, para kiai dan santri sudah memiliki kesadaran literasi, kesadaran ilmu.
Demikian disampaikan Yusron Aminulloh, pendiri IQRA Semesta, yang dikenal sebagai provokator literasi nasional dalam acara Pelatihan Literasi Pesantren di Hotel Aston Mojokerto Selasa (28/5/2024) yang diadakan Dinas Perpustakaan dan Arsip Prop Jawa Timur.
“Bicara literasi di depan kiai, gus dan ning kayak ‘nguyahi segoro’. Karena justru pesantren adalah ‘ibunya’ literasi. Hanya sayang cara berpikir barat yang kemudian membuat kita tidak percaya diri,” tegas Yusron yang juga CEO DeDurian Park Group ini.
Ada fakta bertahun-tahun, menurut Yusron, bangsa ini dianggap buta aksara. Bahkan banyak kota di Jawa Timur dulu pernah dianggap kota buta aksara. Karena pedomannya aksara latin, padahal warga puluhan tahun membaca dengan pego (bahasa arab gundul).
“Kita yakin dari Hasil PISA 2022 menunjukkan peringkat hasil belajar literasi Indonesia naik 5 sampai 6 posisi dibanding PISA 2018. Peningkatan ini merupakan capaian paling tinggi secara peringkat (persentil) sepanjang sejarah Indonesia mengikuti PISA. Padahal riset ini basicnya teks latin, sementara teks pego yang banyak dikuasai santri dan masyarakat luas tidak diakui,” tegas Ketua ISMI (Ikatan Saudagar Muslim Indonesia) Jatim ini.
Narasumber lain, Fauzan Fuadi, anggota DPRD Provinsi Jatim. Ia memberi kesaksian dirinya dulu sebagai santri merasakan manfaatnya membaca.
“Begitu sekarang wajib membaca puluhan buku dan laporan yang harus dibaca. Saya sudah menemukan cara yang efekif, karena tradisi membaca sudah menjadi naluri saya sejak menjadi santri,” tegas Fauzan.
Dr. Ahmad Karomi berpendapat tradisi membaca dan literet sudah mendarah daging di pesantren.
“Sekarang kita tinggal menggunakan alat bantu IT, ragam aplikasi, menjadikan ragam kitab kuning dan ilmu karya para kyai dibaca dengan mudah. Meski subsanti tidak berubah,” tegas doktor asal Pesantren Ploso Kediri ini.
Sementara narasumber lain, Melkion Donald dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Provinsi Jawa Timur mengajak peserta melestarikan naskah kuno. “Di Pesantren ada ribuan naskah kuno, mari kita jaga, kita lestarikan dan pelajari detail isi dan maknanya,” tegasnya. [suf]






