Surabaya (beritajatim.com) – Inovasi teknologi kembali lahir dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). Kali ini, tim dosen dari Program Studi Teknik Mekatronika menciptakan alat penanam padi berbasis robotika bernama Robotani Planter, sebagai solusi cerdas bagi tantangan di sektor pertanian.
Proyek ini dipimpin oleh Dr. Eng. Indra Adji Sulistijono, ST, M.Eng, yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Riset Intelligent Mechatronics and Robotics. Inovasi ini bagian dari riset unggulan dalam skema Program Katalisator Kemitraan Berdikari yang turut mendapat dukungan industri dari PT. Nasta Mekatronika Indonesia.
Yang menarik, pengembangan alat ini melibatkan kolaborasi lintas negara dan jenjang pendidikan. Tiga mahasiswa asal University Polytechnic Hauts-De-France, Prancis, Arthur Leduc; Noam Yanis Adda, dan Odin Antonio Jean Claude De Vito, turut bergabung dalam proses Detail Engineering Design (DED). Selain itu, siswa dan guru dari SMK Negeri 1 Jenangan, Ponorogo juga ambil bagian dalam produksi komponen alat.
“Walau konsep awal dan pengembangannya berasal dari tim riset kami, dalam praktiknya kami membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak. Di SMKN 1 Jenangan misalnya, beberapa bagian alat kami produksi bersama siswa dan guru di sana,” ungkap Indra, Kamis (15/3/2025).
Para mahasiswa Prancis yang terlibat diketahui tengah menempuh 30 SKS program akademik di PENS. Keterlibatan mereka menjadi cerminan komitmen kampus dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan berstandar global.
Robotani Planter dirancang dalam tiga versi berbeda: manual, baterai, dan bahan bakar minyak (BBM). Setiap varian dirancang menyesuaikan kontur serta luas lahan pertanian di Indonesia. Versi manual yang lebih ringan dan kecil cocok untuk area terbatas di dataran tinggi.
Sementara versi baterai, dilengkapi dengan sistem kendali jarak jauh, ditujukan untuk lahan sedang. Untuk area luas dengan medan berat, digunakan varian BBM dengan tenaga dan kapasitas lebih besar.
“Ada proses panjang yang kami jalani sampai akhirnya muncul tiga versi alat. Hal ini kami sesuaikan dengan lokasi uji coba di Pudak, Ponorogo, yang memiliki kontur beragam. Jadi kami upayakan alat ini fleksibel terhadap kondisi lahan,” jelas Indra.
Teknologi yang diusung Robotani Planter meliputi sistem kelistrikan, komputasi, serta garpu penanam otomatis. Semua elemen ini bekerja untuk memastikan akurasi posisi dan jarak tanam, sekaligus mempercepat proses penanaman agar efisien dan presisi.
Lebih dari sekadar inovasi teknis, proyek ini juga lahir sebagai respon terhadap tantangan serius di sektor agraris. Minimnya tenaga kerja muda dan rendahnya efisiensi akibat metode tradisional menjadi latar belakang utama.
“Fokus kami sekarang adalah mengenalkan teknologi yang dapat menjawab masalah mendasar di dunia pertanian. Terutama soal kekurangan tenaga kerja, perubahan iklim ekstrem, serta kebutuhan efisiensi yang tidak bisa lagi ditangani cara konvensional,” imbuh Indra.
Apresiasi pun datang dari kalangan akademisi dan mitra strategis. Ketua Konsorsium PTV Jawa Timur, Prof. Amang Sudarsono, menyatakan bahwa Robotani adalah langkah konkret membangun daya tarik sektor pertanian bagi generasi muda.
“Sebagai provinsi lumbung pangan nasional, Jawa Timur punya potensi besar dalam sektor pertanian. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan bidang ini menarik bagi kaum muda. Dan Robotani adalah jawaban yang sangat menjanjikan,” tutur Amang.
Saat ini, Robotani Planter tengah memasuki tahap akhir, yaitu persiapan komponen untuk proses perakitan dan uji coba lapangan. Inovasi ini menjadi bagian dari sinergi antara PENS, mitra industri, sekolah kejuruan, serta jejaring internasional dalam Konsorsium PTV Jawa Timur. [ipl/beq]






