Malang (beritajatim.com) – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan produk inovasi bisnis berupa budidaya telur burung puyuh rendah kolesterol. Produk ini berhasil lolos dalam Program Pengembangan Mahasiswa Wirausaha (P2MW).
Kelompok yang terdiri atas Delisa Rezi Meirawati, Agus Muhaimin, Nuranisa, dan Salsabilla Putri Priyandani ini menghadirkan solusi untuk mengurangi kadar kolesterol dalam telur burung puyuh dengan menggunakan tepung kunyit. Tepung ini mereka gunakan sebagai tambahan pada pakan.
Delisa, selaku ketua tim menjelaskan bahwa burung puyuh punya beberapa keunggulan. Pertama, burung puyuh memiliki siklus produksi yang cepat dan efisien, sehingga memungkinkan produksi telur yang stabil dalam waktu singkat.
“Kedua, telur puyuh dikenal memiliki kandungan nutrisi yang tinggi. Namun, tantangan utama adalah mengurangi kadar kolesterol dalam telur untuk menjadikannya lebih sehat,” kata Delisa, Jumat (21/6/2024).
Salah satu inovasi utamanya, lanjut Delisa, dengan penggunaan tepung kunyit sebagai tambahan pada pakan burung puyuh. Tepung kunyit kaya antioksidan dan punya banyak manfaat kesehatan, termasuk menurunkan kolesterol dan tekanan darah tinggi.
Tepung kunyit berasal dari kunyit yang dihaluskan menjadi bubuk. Kemudian, dicampurkan dengan perbandingan 50 kg pakan komersial dan 500 g kunyit bubuk.
“Untuk memastikan hasil, kami membeli pullet burung puyuh yang berusia 3-4 minggu atau yang sudah siap bertelur. Lalu, diberikan pakan yang dicampur dengan tepung kunyit di hari ketujuh setelah pullet tersebut datang,” kata mahasiswa angkatan 2020 tersebut.
Dalam memastikan efektivitas inovasinya, empat mahasiswa ini melakukan pengujian di Laboratorium Biomedik UMM. Dengan membandingkan telur hasil produksi mereka dan telur puyuh yang dijual di pasaran.
Hasil uji laboratorium tersebut menunjukkan bahwa telur burung puyuh yang dihasilkan memiliki kadar kolesterol lebih rendah dibandingkan dengan telur puyuh konvensional yang ada di pasaran.
“Kami yakin bahwa peternak dan masyarakat dapat mengadopsi praktik yang sama dengan memberikan tepung kunyit pada pakan burung puyuh sejak usia lima minggu. Memang masih perlu penelitian lebih rinci dan detail lagi. Namun hasil pengamatan kami menunjukkan kolesterol rendah di telur puyuh ini,” tandas Delisa.
Tim mahasiswa UMM ini berharap dengan budidaya burung puyuh rendah kolesterol, Indonesia dapat meningkatkan produksi telur dan daging burung puyuh secara signifikan. Timnya melihat usaha ini tidak hanya dari sisi bisnis semata, tetapi juga dari dampak sosial yang dapat dihasilkan.
“Dengan meningkatkan produksi burung puyuh, kami berharap dapat membantu meningkatkan kesejahteraan peternak lokal,” tutup Delisa.
Menariknya, pengembangan usaha ini dilakukan di Desa Sidodadi, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada ketiadaan peternak burung puyuh di daerah tersebut sehingga peluang mengembangkan budidaya burung puyuh lebih besar.
Kesuksesan kelompok ini tidak lepas dari peran aktif dosen Peternakan UMM sekaligus dosen pembimbing lapangan, Bayu Etty Tri Adiyastiti, S.Pt, M.Si. Ia mengawal mulai dari proses persiapan hingga pelaksanaan proyek, termasuk pelatihan startup digital dan sesi pembinaan bulanan yang diselenggarakan secara rutin. (dan/but)






