Malang (beritajatim.com) – Pengembangan keterampilan berpikir komputasional (computational thinking) pada anak usia dini, sesuai amanat Permendikbudristek, seringkali menjadi tantangan bagi orang tua. Namun, Politeknik Negeri Malang (Polinema) melalui Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) ETU 2025 sukses menjembatani kebutuhan ini dengan melahirkan tiga startup inovatif yang fokus memanfaatkan teknologi 3D Printing.
Tiga tim, yaitu Wonderbots, Scentech, dan Wujudin, berhasil lolos pendanaan PMW dan mulai menorehkan omset jutaan dalam waktu singkat. Dipandu oleh Dosen Pembimbing PMW, Septyana Riskitasari, S.S.T., M.Tr.T., ketiga produk ini bukan sekadar bisnis, tetapi solusi atas isu edukasi dan lifestyle Gen Z dan orang tua muda.
Ketiga tim ini bernaung di bawah Teknograf Lab, sebuah lab kolaborasi antara mahasiswa Tekno dan Mesin Polinema. Wonderbots, misalnya Isu menjawab m kebutuhan akan alat bantu pengembangan motorik dan kognitif berbasis robotika untuk anak usia dini (1-5 tahun).
“Sesuai aturan pemerintah tentang pengasahan berpikir komputasional yang bisa diterapkan dari usia dini, kami menjembatani adik-adik untuk belajar merakit, merangkai, dan memainkan mainan edukatif ini bersama orang tua,” jelas Septyana Riskitasari pada beritajatim.com, Jumat (21/11/2025).
Wonderbots fokus pada mainan edukatif yang memungkinkan anak belajar merangkai. Target pasarnya adalah ibu-ibu muda atau orang tua yang concern terhadap perkembangan motorik anak, dengan antusiasme pembelian yang tinggi dari orang tua yang memiliki anak usia 1-5 tahun.
Scentech: Aromatherapy Cerdas untuk produk kedua, Scentech, hadir sebagai solusi lifestyle dan kesehatan mental bagi mahasiswa muda. Scentech merupakan smart diffuser berbasis teknologi wemos D1 Mini.
“Ini adalah aromaterapi elektrik portabel yang menggabungkan teknologi ultrasonik canggih dengan desain elegan. Alih-alih menggunakan vaping atau inhaler biasa, Scentech menggunakan teknologi Wemos untuk menghasilkan uap lembut,” lanjut Septyana Riskitasari.

Scentech ini menjadi produk yang disukai Gen Z. Produk ini dirancang untuk meredakan stres dan menciptakan relaksasi, sangat relevan dengan isu burnout dan tekanan akademik yang dialami mahasiswa.
“Kami menggunakan sistem ultrasonic mist make yang menghasilkan kabut halus tanpa panas, menjaga kualitas aroma tetap alami. Selain itu, desainnya modern dan estetik, mudah dibawa ke mana saja (kos, kampus, kantor), serta memiliki wadah air berkapasitas besar,” lanjut dosen Polinema itu.
Target pasar utama Scentech adalah mahasiswa-mahasiswa muda yang mencari alternatif sehat dan stylish untuk pengharum ruangan.
Dari ketiga tim, Wujudin menunjukkan performa keuangan paling cemerlang. Wujudin adalah jasa kreatif 3D Printing, tempat anak-anak hingga mahasiswa bisa mencetak prototype atau desain apa pun.
“Wujudin ini perspektifnya lebih tinggi karena sudah masuk ke beberapa Himpunan Mahasiswa (Himpunan Elektro dan Himpunan Mesin) Polinema. Cash flow-nya sudah lebih baik dari dua tim lainnya,” ungkap Septyana.
Dengan omset bulanan mencapai Rp2,5 Juta hanya dalam dua bulan operasional optimal sejak pendanaan PMW, Wujudin membuktikan bahwa layanan kustomisasi 3D Printing memiliki permintaan yang kuat di kalangan mahasiswa dan komunitas teknik. Tim ini bahkan sudah masuk 10 besar dalam kompetisi Indonesian Fun Science (IFS) dan bertekad untuk terus mengikuti kompetisi bisnis lainnya.
Untuk menjangkau target pasar Gen Z dan orang tua muda yang melek digital, ketiga produk Wujudin, Scentech, dan Wonderbots, mengandalkan strategi pemasaran digital yang terstruktur.
Mereka rutin live TikTok. Pemasaran inti dilakukan melalui Live TikTok setiap hari Rabu dan Jumat, pukul 18.00 hingga 20.00 WIB, jam prime time di mana Gen Z aktif berselancar di media sosial.
“Setiap produk memiliki segmen pasar yang jelas dan unik. Wujudin ke mahasiswa Himpunan, Wonderbots ke ibu-ibu muda, dan Scentech ke mahasiswa muda,” kata Septyana Riskitasari menutup penyampaian. (dan/but)






