Lamongan (beritajatim.com) – Kabupaten Lamongan memiliki berbagai macam kuliner khas yang memanjakan lidah penikmatnya. Salah satu kuliner itu adalah wingko kriuk, yang merupakan camilan varian lain dari wingko yang sudah melegenda.
Diketahui, wingko merupakan makanan khas Babat (salah satu Kecamatan di Kabupaten Lamongan) yang diperkirakan telah dibuat sejak tahun 1900-an oleh warga Tionghoa bernama Loe Soe Siang.
Selain itu, wingko juga memiliki berbagai kelebihan yang tak dimiliki kuliner lainnya. Wingko adalah jajanan yang wajib menjadi oleh-oleh bagi para pengunjung yang datang ke Lamongan. Bentuknya yang bulat dan rasanya yang legit ini pun membuatnya mudah diingat, bahkan bagi orang yang baru saja mencicipinya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”wingko-babat”]
Kini seiring perkembangan zaman, beragam varian hasil inovasi wingko telah bermunculan. Tak hanya dari segi aneka rasanya, wingko kini juga memiliki bentuk atau penampilan, isi, dan kemasan yang menarik. Tak terkecuali wingko kriuk, varian wingko crispy yang renyah dan krenyes.
Pengusaha kuliner Lamongan yang mampu menginovasikan wingko kriuk ini adalah Yuaningsih. Menurutnya, nama wingko kriuk ini bermula dari lomba inovasi produk UMKM yang digelar beberapa tahun lalu. Yuaningsih mengatakan, ide pembuatan wingko kriuk itu dilatarbelakangi oleh keinginannya untuk membuat olahan berbahan dasar wingko agar bisa bertahan lebih lama.
“Kemunculan wingko kriuk ini bermula ketika ada lomba inovasi produk, saya kemudian berkreasi dengan membuat wingko dibuat seperti keripik yang krenyes dan bisa bertahan lama,” ujar Yuaningsih, saat dikonfirmasi, Minggu (6/11/2022).

Secara rinci, Yuaningsih menuturkan, wingko kriuk ini tetap memanfaatkan bahan dasar wingko seperti kelapa, tepung ketan dan santan. Hanya saja, ada beberapa bahan tambahan yang digunakan, karena wingko ini dibuat menjadi olahan kue kering seperti halnya keripik.
Adapun beberapa bahan tambahan tersebut, sebut Yuaningsih, adalah tepung, mentega dan telur yang bahannya lebih diperbanyak. “Bedanya, kalau wingko memiliki tekstur basah saat dicetak, maka wingko kriuk ini memiliki adonan yang lebih mirip stik,” katanya.
Untuk proses pembuatannya, Yuaningsih menjelaskan, setelah semua bahan ini tercampur, lalu digiling dan dicetak bulat. Setelahnya, dimasukkan oven selama sekitar 30 menit. Wingko kriuk yang diproduksi secara massal sejak tahun 2019 itu, imbuh Yuaningsih, kini sudah terdapat 3 pilihan varian, meliputi varian rasa original, varian durian dan varian capuccino, yang bisa dikondumsi dalam waktu lama.

Lebih lanjut mengenai pemasarannya, Yuaningsih mengaku, wingko kriuk hasil inovasinya ini bisa dipasarkan dengan jangkauan lebih luas dan disebar melalui reseller serta toko oleh-oleh di wilayah Lamongan dan sekitarnya.
“Wingko kriuk ini juga kita pasarkan di kota-kota sekitar Lamongan seperti Surabaya. Untuk goody bag juga kita sering diminta untuk mengisinya dengan wingko kriuk ini,” tambah Yuaningsih asal Kelurahan Tlogoanyar, Kecamatan/Kabupaten Lamongan itu.
Yuaningsih bersyukur, saat ini banyak pelanggannya yang ketagihan dengan rasa wingko kriuk buatannya. Terlebih untuk harganya juga dijual dengan harga yang cukup ekonomis dan ramah dikantong, yakni mulai Rp20 ribu. “Banyak yang penasaran dengan rasa wingko kriuk, dan ada yang sudah banyak yang cocok di lidah sehingga mereka memesan kembali. Alhamdulillah, pembinaan dari dinas terus kontinyu dan responnya bagus, sehingga kita bisa menjadi pelopor wingko kriuk di sini,” tutupnya. [riq/suf]






