Mojokerto (beritajatim.com) – Arkeolog Museum dan Cagar Budaya, Wicaksono Dwi Nugroho, menjelaskan bahwa peta Trowulan karya Kapten Johannes Willem Bartholomeus Wardenaar berisi dokumentasi detail mengenai bangunan-bangunan kuno yang masih terlihat pada 1815. Informasi itu kemudian menjadi referensi awal bagi penelitian Majapahit di masa berikutnya.
“Di dalam peta itu terdapat uraian singkat, legenda peta, dan beberapa sketsa cat air yang menggambarkan kondisi reruntuhan. Isinya memuat bangunan yang ia temui, mulai Candi Brahu di bagian barat laut hingga kawasan Kedaton,” ungkapnya, Senin (24/11/2025).
Beberapa bangunan yang terpetakan antara lain Candi Brahu di Desa Bejijong, Gerbang Bajang Ratu di Desa Temon, Kolam Segaran di Desa Trowulan dan Kompleks Kedaton di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan. Beberapa reruntuhan lain yang kini sebagian sudah tidak tersisa
“Cakupan peta tidak seluas dimensi wilayah inti ibu kota Majapahit, yaitu sekitar 9 x 11 kilometer, yang membentang dari utara ke selatan. Sebenarnya lebih sempit. Fokusnya masih seputar reruntuhan di Trowulan (Kecamatan Trowulan) saat ini, bukan kawasan yang melebar terlalu jauh,” katanya.
“Selain menggambar, Wardenaar juga melakukan pemetaan topografi dasar dan identifikasi struktur bangunan yang nyaris terkubur vegetasi. Ia melakukan pemetaan, bukan cuma seni lukis. ia melakukan pemetaan, mapping dengan pendekatan ilmiah Itu yang membuat dokumen ini istimewa,” imbuhnya.
Ilustrasi yang ia buat, seperti lukisan struktur bata dan reruntuhan gerbang, kini menjadi visualisasi paling awal tentang Majapahit pasca keruntuhannya beberapa abad sebelumnya. Lebih dari itu, peta tersebut menjadi dasar bagi generasi arkeolog selanjutnya untuk melacak situs-situs yang kini menjadi ikon Trowulan. [tin/but]







