Ponorogo (beritajatim.com) – Bupati Sugiri Sancoko menargetkan tahun ini angka stunting di Kabupaten Ponorogo turun menjadi 7 persen. Berbagai strategi harus dilakukan untuk mensukseskan target tersebut. Salah satu strategi yang dilakukan oleh orang nomor satu di bumi Reog itu, yakni dengan bergotong-royong. Berbagai elemen masyarakat Ia libatkan untuk menurunkan stunting dari angka 14,2 persen pada tahun 2022, menjadi 7 persen di tahun ini.
“Tahun 2023 kita akan bergotong-royong serentak, hingga tingkat desa sampai organisasi masyarakat untuk ikut andil dalam menekan angka stunting di Ponorogo,” kata Bupati Sugiri Sancoko, Rabu (29/03/2023).
Organisasi masyarakat, Ia ajak untuk berpikir bagaimana untuk meningkatkan kualitas generasi penerus di Ponorogo. Tidak hanya peningkatan kualitas fisiknya saja, namun peningkatan mental, karakter dan akhlaknya juga. Bupati Sugiri akan mengundang MUI, NU, Muhammadiyah dan badan otonom dari 2 organisasi masyarakat keagamaan itu, untuk membicarakan konsep bagaimana memperbaiki kualitas generasi penerus. “Maka semua akan kita libatkan. Kita akan mengundang MUI, NU dan Muhammadiyah untuk membicarakan konsep memperbaiki kualitas generasi ini,” katanya.
BACA JUGA: Ada SD Negeri di Ponorogo Bakal Tutup 2 Kali
Target penurunan angka stunting di tahun ini, nampaknya tidak terlalu berlebihan. Hal itu tentu berkaca pada grafik penurunan angka stunting dalam 2 tahun terakhir. Dimana pada tahun 2021 lalu, angka stunting di Kabupaten Ponorogo di angka 20,0 persen. Sementara pada tahun 2022 lalu, angka stunting di Kabupaten Ponorogo turun menjadi 14,2 persen. Sehingga target angka stunting 7 persen yang dicanangkan oleh bupati itu, memang sesuatu yang harus bisa diusahakan dan diwujudkan.
“Kita akan konsentrasi betul terkait dengan penurunan stunting ini. Dengan gotong-royong, kita juga melibatkan sebagian anggaran desa untuk ikut menekan stunting dengan pemberian makanan tambahan saat posyandu,” katanya.
Dengan desa menganggarkan untuk memperbaiki kualitas gizi untuk generasi penerus, sama saja dengan upaya untuk menekan angka stunting. Kader posyandu harus diberikan kriteria makanan dengan gizi yang cukup jika nanti diberikan kepada sang balita dalam kegiatan posyandu. “Harus diberikan kriterianya, makanan yang bergizi kan bisa protein hewani, mungkin juga bisa sayuran. Desa jangan takut untuk menganggarkannya,” katanya.
Sebagai informasi, balita yang mengalami stunting di Kabupaten Ponorogo mengalami penurunan dalam 2 tahun terakhir. Setidaknya itu bisa dilihat dari hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia (RI). Lewat Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, balita di Kabupaten Ponorogo yang mengalami stunting sebesar 14,2 persen. Persentase balita stunting di Kabupaten Ponorogo itu, menurun jika dibandingkan dengan hasil SSGI pada tahun 2021 lalu, yakni sebesar 20,0 persen.
“Hasil SSGI, tahun 2021 lalu jumlah stunting di Ponorogo ada 20,0 persen. Sementara untuk tahun 2022, angka stuntingnya ada 14,2 persen. Artinya ada penurunan angka stunting sebesar 5,8 persen untuk Ponorogo,” kata Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Ponorogo Harjono. (ADV/end)






