Ponorogo (beritajatim.com) – Masalah ekonomi, keluarga, dan pekerjaan. Ya tiga hal itu mayoritas yang memicu warga Ponorogo mengalami orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Penyakit jiwa di bumi reog tidak boleh dianggap enteng.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ponorogo tercatat ada 3.802 masyarakat di Bumi Reog terdeteksi mengidap penyakit jiwa tersebut. Data itu mulai awal pendataan ODGJ yang dilakukan pada tahun 2014.
“Hingga kini jumlahnya ribuan, mayoritas ditengarai karena beberapa faktor. Mayoritas karena masalah ekonomi, keluarga dan pekerjaan,” kata Subkoordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Dinkes Kabupaten Ponorogo Anik Setyarini, Selasa (12/7/2022).
Dari ribuan yang tercatat mengidap penyakit jiwa itu, ada yang bergejala berat, sedang dan ringan. Jika pasien ODGJ melakukan pengobatan rutin, biasanya gejala berat bisa berubah menjadi ringan.
“Jadi fluktuatif datanya, tidak bisa dipresentasikan yang gejala berat berapa, sedang dan ringan berapa,” ungkap Anik.
[berita-terkait number=”4″ tag=”ponorogo”]
Selain itu, Anik juga menjelaskan bahwa pendataan kesehatan jiwa itu berbeda dengan kesehatan fisik biasanya yang bisa disebut sembuh secara total. Menurutnya, data jiwa tidak bisa dihilangkan, jika dinyatakan sembuh tetapi harus terus dipantau.
“Baru dihapus dari data, jika ODGJ itu meninggal dunia,” ungkapnya.
Selain masalah ekonomi, keluarga dan pekerjaan, akhir-akhir ini ada penyebab lain yang menyebabkan masyarakat menjadi ODGJ. Yakni karena perundungan atau bullying. Kasus ODGJ dengan penyebab perundungan itu kebanyakan dialami oleh remaja.
“Perundungan atau bullying menjadi penyebab baru pasien ODGJ. Ditemukan pada usia remaja,” pungkasnya. [end/but]






