Surabaya (beritajatim.com) – Ikut bersuaranya PDI Perjuangan untuk menolak Israel dalam Piala Dunia U20 di Indonesia menunjukkan betapa seksinya isu ini jelang pemilihan umum tahun depan.
Kelompok nasionalis tidak membiarkan kelompok Islam menjadi pemain tunggal dalam isu tersebut. Selama ini isu Palestina-Israel merupakan isu tradisional kelompok Islam. Pilihan untuk menjadikan sikap Soekarno pada 1957 sebagai referensi politik, merupakan langkah strategis untuk mereposisi ideologi nasionalis di hadapan pemilih dari kalangan muslim taat tanpa meninggalkan basis pemilih tradisional.
Dampak keuntungan elektoralnya bagi PDI Perjuangan memang masih belum terlihat. Namun penggunaan sosok Soekarno mengingatkan kembali kepada publik bahwa PDI Perjuangan dan kelompok nasionalis punya otoritas ideologi untuk mengusung isu ini keluar dari kotak tafsir ideologi agama. Untuk pertama kalinya, isu Palestina mendapat tafsir politik yang lebih inklusif di jagat politik Indonesia.
PDI Perjuangan mengingatkan, pada masa Presiden Soekarno, pemerintah Indonesia tidak memberikan visa kedatangan delegasi Israel, yang berakibat Indonesia lebih memilih membayar denda kepada Komite Olimpiade Dunia daripada menerima delegasi atlet Israel. “Sikap Presiden Soekarno diatas sebagai cermin konsistensi Indonesia dalam melawan dan menghapuskan segala bentuk penjajahan, dan kolonialisme di muka bumi,” kata Pelaksana Tugas Ketua PDI Perjuangan Jatim, Said Abdullah, Rabu (22/3/2023).
Ada dua dampak positif bagi pemerintah dengan masuknya PDI Perjuangan dalam pusaran isu ini. Pertama, memberikan kesempatan kepada pemerintah untuk melonggarkan tekanan dan sorotan dari kelompok Islam kritis. Pernyataan Pelaksana tugas Menteri Pemuda dan Olahraga Muhadjir Effendy sebenarnya sudah cukup menunjukkan betapa gamangnya pemerintah menghadapi isu ini.
“Posisi kami jelas, pemerintah Indonesia tidak akan pernah beringsut sejengkal pun dalam menegakkan konstitusi, Hanya memang kami sudah berkomitmen menjadi penyelenggara dan kita juga sepakat acara ini sangat strategis untuk mengangkat harkat dan martabat Indonesia,” katanya, dikutip Tempo.co, 21 Maret 2023.
Dalam situasi ini, posisi PDI Perjuangan sebagai partai berkuasa, terutama dengan tampilnya Gubernur Wayan Koster sebagai representasi pemimpin non muslim yang menolak Israel di Bali, mereduksi kekuatan isu Palestina-Israel untuk digunakan kelompok-kelompok oposisi menyerang pemerintah.
Implikasi kedua, menjaga hubungan baik dengan Palestina dan negara-negara Islam. Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Al-Shun masih mempercayai pemerintah Indonesia, menyusul munculnya isu Indonesia adalah satu dari empat negara yang siap untuk menormalisasi hubungan dengan Israel. “Isu ini gencar diberitakan di media. Tapi kami tidak takut akan isu itu. Kami sangat percaya dengan kebijakan Indonesia,” katanya, sebagaimana dilansir Liputan6.com, 21 Maret 2023. [wir]






