Sampang (beritajatim.com) – Menjelang hari raya Idul Adha 1444 Hijriyah, warga Madura khususnya yang berasal dari Kabupaten Sampang, mempunyai tradisi Toron atau pulang kampung dari perantauan. Sebuah tradisi yang hampir mirip dengan mudik saat hari raya Idul Fitri.
Mudik dengan Toron ini sebenarnya tidak jauh berbeda. Namun bagi warga Madura, saat momen Idul Adha, selain berkumpul dan silaturahmi juga dimanfaatkan berkurban di kampung.
“Terkadang sebagian besar warga Sampang, tidak mudik saat Idul Fitri, mereka justru memilih Toron di hari raya kurban atau Idul Adha,” kata Sutiah, warga Sampang yang merantau berjualan sate ke Yogyakarta, Minggu (25/6/2023).
Sutiah menjelaskan alsan memilih mudik di saat Idul Adha. Karena lebaran Idul Fitri merupakan kesempatan untuk berjualan melayani pelanggan yang pulang kampung ke Yogya. “Kebetulan saat hari raya Idul Fitri banyak pemudik yang memburu kuliner di daerahnya, maka kami bertahan untuk tetap bedagang meski warga lainya sedang mudik,” imbuhnya.
Lanjut Sutiah, sementara saat hari raya Idul Adha, warga di luar pulau Madura tidak memiliki tradisi Toron. Ssehingga ia memilih pulang kampung dan berkumpul dengan keluarga sembari berkurban.
“Toron ini hanya ada di Madura, yang artinya turun dari perantauan,” tegasnya.
BACA JUGA:
Tanpa Penyekatan di Suramadu, Toron ke Madura Ramai
Hal senada juga dikatakan oleh Mashudi yang juga melestarikan tradisi Toron dari perantauan untuk merayakan Idul Adha di kampung halamannya.
“Selain kita pulang kampung, terkadang juga ada acara selamatan keluarga. Sehingga tradisi Toron ini sangat melakat di hati warga Madura dan yang ditunggu-tunggu untuk kumpul dengan keluarga besar kita,” tandasnya. [sar/but]






