Jember (beritajatim.com) – Inflasi di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mulai mendaki. Jika sebelumnya pada Januari dan Februari, inflasi masing-masing sebesar 0,16 dan 0,18 persen, kini pada Maret 2023 sudah mencapai 0,39 persen.
Angka inflasi Jember ini sama dengan Jawa Timur dan Surabaya. Komoditas terbesar penyumbang inflasi bulanan adalah beras, bensin, rokok kretek filter, rokok putih, bawang putih, telur yam ras, dagung ayam ras, emas perhiasan, tomat dan cabe rawit. Beras memberikan andil inflasi terbesar yakni 0,05 persen.
“Memang cabe rawit pada minggu-minggu kemarin tidak muncul (sebagai penyumbang besar inflasi). Artinya ketersediaan cabe rawit cukup. Kalau tidak salah, kita ingat ada program pembagian benih dan sudah mulai panen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik Tri Erwandi, Senin (3/4/2023).
Namun Erwandi meminta agar mewaspadai permintaan cabai dari restoran dan rumah makan. “Mungkin untuk kebutuhan rumah tangga siap, tapi yang perlu diwaspadai adalah rumah makan dan restoran, juga rumah makan Padang, yang mungkin butuh cabai besar,” katanya.
Sebelumnya Bupati Hendy Siswanto meminta bantuan kepada 86 ribu anggota badan usaha milik desa bersama (bumdesma) agar mau menanam cabai di pekarangan masing-masing. Dia memerintahkan kepada Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Jember untuk memfasilitasi ikhtiar ini medio Januari lalu.
Sementara itu beras masih memberii andil inflasi terbesar pada Maret, namun angkanya tidak terlalu besar. “Karena seringnya digerojok pasar murah, lumayan (kenaikan) harga beras tidak ekstrem. Andilnya 0,05 persen, tapi kenaikan inflasinya absolutnya cuma 1,11 persen,” kata Erwandi.
Menurut Erwandi, fenomena andil beras dalam inflasi sama dengan di daerah lain. “Namun beras di Jember mencukupi walau stoknya tidak banyak. Sementara di luar (daerah lain), beras impor sudah masuk. Jadi walaupun beras mengalami kenaikan, tapi masih bagus karena ditunjang beberapa lomoditas yang turun. Untungnya komoditas lain seperti cabai tidak muncul, minyak goreng tidak muncul seperti tahun kemarin. Antisipasi pemerintah memenuhi sasaran,” katanya.
Kendati inflasi masih bisa terkendali, Erwandi mengingatkan kepada seluruh pemangku kebijakan agar mewaspadai kenaikan harga sandang dan telur ayam. “Jangan sampai kenaikan harganya tinggi sekali. Saya berharap pedagang mengambil untung tidak terlalu jauh, terutama skala rumah tangga. Kalau grosir kan tidak banyak. Ini kan yang mengonsumsi baju, celana, sandang, sarung, baju koko, songkok adalah masyarakat banyak,” katanya. [wir]






