Yogyakarta (beritajatim.com)- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mengokohkan fondasi industri nasional agar tetap tangguh menghadapi dinamika global. Hingga triwulan III 2025, sektor industri pengolahan non-migas masih menunjukkan performa solid dan menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa industri pengolahan non-migas mencatat pertumbuhan sekitar 5,58 persen dan berkontribusi lebih dari 17,39 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Kinerja positif ini turut diperkuat oleh optimisme pelaku usaha, yang tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) sebesar 53,45 serta Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur 53,3 pada November 2025—keduanya berada di zona ekspansif.
Untuk menjawab tantangan jangka panjang sekaligus memperkuat daya saing industri, Kemenperin telah menetapkan Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN) sebagai arah kebijakan menuju Indonesia Emas 2045. Strategi ini bertumpu pada empat pilar utama, yakni hilirisasi, pengembangan ekosistem industri, penguasaan teknologi, dan keberlanjutan, dengan menekankan pentingnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
Dalam implementasi strategi tersebut, Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) memegang peran strategis dalam memperkuat ekosistem industri nasional. Kepala BSKJI, Emmy Suryandari, menegaskan bahwa pihaknya terus meningkatkan kualitas dan relevansi layanan jasa industri melalui 24 Unit Pelaksana Teknis yang berada di bawah koordinasi BSKJI.
“BSKJI berkomitmen memastikan produk industri nasional memenuhi aspek mutu, keselamatan, serta standar global yang berkelanjutan. Seluruh unit kerja kami dorong untuk terus berinovasi dan adaptif terhadap kebutuhan industri,” ujar Emmy melalui siaran pers Rabu (24/12/2025).
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) menggelar Industrial Gathering 2025 bertema “Sinergi dan Kolaborasi Menuju Kemandirian Industri” di Yogyakarta, Selasa (23/12) kemarin.
Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid ini diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai unsur, mulai dari instansi pemerintah pusat dan daerah, BUMN, Bank Indonesia, pelaku industri, akademisi, asosiasi, hingga mitra dan calon pengguna layanan BBSPJIKB.
Pelaksana Tugas Kepala BBSPJIKB, Cahyadi, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai forum komunikasi yang terbuka dan kolaboratif. Selain mempererat sinergi antarpemangku kepentingan, BBSPJIKB juga memanfaatkan momentum ini untuk mensosialisasikan perluasan jenis serta ruang lingkup layanan jasa industri yang kini tidak lagi terbatas pada sektor kerajinan dan batik.
“Melalui Industrial Gathering 2025, kami ingin memperkuat kolaborasi sekaligus memperkenalkan pengembangan layanan BBSPJIKB agar semakin relevan dengan kebutuhan industri ke depan,” kata Cahyadi.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan diskusi panel yang menghadirkan narasumber dari Direktorat IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kemenperin, KADIN DIY, PT Fumira, serta internal BBSPJIKB. Diskusi ini menjadi ruang strategis untuk berbagi perspektif terkait tantangan dan peluang pengembangan industri nasional.
Sebagai bentuk apresiasi, BBSPJIKB turut memberikan penghargaan kepada klien dan mitra dalam kategori Top Client, Top Loyal, dan Best Partner. Selain itu, dilakukan pula penyerahan sertifikat secara simbolis kepada industri yang telah lulus proses sertifikasi, meliputi sertifikasi produk SNI, Batikmark, profesi, sistem manajemen mutu, halal, serta industri hijau. Langkah ini diharapkan dapat mendorong peningkatan mutu, kepatuhan standar, dan daya saing industri nasional secara berkelanjutan. [aje]






