Gresik (beritajatim.com) – Potensi hasil perikanan nelayan Pulau Bawean, Gresik, sangat melimpah. Namun sayangnya, hasil tangkapan tersebut belum bisa dimanfaatkan maksimal karena keterbatasan fasilitas pendingin (cold storage). Akibatnya, ikan mudah membusuk dan sebagian hasil tangkapan terpaksa dijual murah, bahkan ada yang dibuang kembali ke laut.
Plt Kepala Dinas Perikanan Gresik, Arif Wicaksono, menyebut keberadaan cold storage sangat mendesak untuk menjaga kesegaran ikan. Namun, unit pendingin yang ada saat ini sudah rusak dan perlu segera diganti.
“Hasil perikanan nelayan di Pulau Bawean sangat melimpah, tapi terkendala cold storage yang minim sehingga ikan mudah membusuk,” ujarnya, Selasa (16/9/2025).
Menurut Arif, saat ini produksi ikan sedang tinggi, rata-rata mencapai 200 ton. Tanpa fasilitas penyimpanan yang memadai, nelayan terpaksa menjual dengan harga rendah atau merugi karena ikan tak bertahan lama.
Ia mencontohkan, dalam unit bisnis industri (UBI), 20 ton ikan bisa menghasilkan omzet ratusan juta rupiah. Jumlah tersebut bisa meningkat berlipat ganda apabila tersedia fasilitas pendingin yang memadai.
“Karena itu, Dinas Perikanan Gresik berencana menggandeng Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jatim serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Sebab, biaya pengadaan cold storage sangat besar dan tidak bisa hanya ditanggung APBD,” jelasnya.
Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Gresik, Muhammad Kurdi, menyatakan dukungannya atas langkah Dinas Perikanan. Ia juga mendorong agar pembiayaan bisa dikembangkan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan-perusahaan di kawasan pesisir.
“Saat ini masih dalam tahap koordinasi dengan Dinas Perikanan Gresik. Kami juga mendorong agar CSR dari perusahaan pesisir bisa dimanfaatkan untuk mendukung pengadaan cold storage,” tegas Kurdi.
Dengan adanya sinergi lintas sektor, diharapkan kendala fasilitas pendingin segera teratasi sehingga potensi besar perikanan Pulau Bawean bisa benar-benar mendongkrak kesejahteraan nelayan. [dny/but]






