Surabaya (beritajatim.com) – IKA FK (Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran) Unair mencetak dua rekor MURI sekaligus pada puncak perayaan Dies Natalis Pendidikan Dokter di Surabaya ke-110 dan Universitas Airlangga ke-69, Minggu (26/11/2023).
Rekor tersebut adalah penyuluhan dan edukasi stunting di lokasi terbanyak oleh alumni fakultas kedokteran satu perguruan tinggi. Lalu, webinar dengan pembicara dokter spesialis terbanyak dalam satu hari.
Sudah menjadi tradisi tahunan, setiap memperingati dies natalis, FK Unair berkolaborasi dengan Ikatan Alumni FK Unair, RSUD Dr Soetomo dan RS Unair mengadakan pengabdian masyarakat angkatan.
Dekan FK Unair Prof Budi Santoso mengatakan, tema stunting dipilih tahun ini karena masih menjadi tantangan kesehatan saat ini. Apalagi, ini sejalan dengan target pemerintah untuk percepatan penurunan stunting.
BACA JUGA: Alumni FK Unair 93 Berlayar ke Pulau Mandangin Sampang untuk Tangani Stunting
“Kami melakukan pengabdian masyarakat stunting di 41 titik di 24 provinsi di Indonesia. Pelaksanaannya serempak pada tanggal 24 Oktober lalu dan dilaporkan live via zoom,” kata Budi, Senin (27/11/2023).
Pengmas (Pengabdian Masyarakat) stunting ini dilakukan oleh alumni dari berbagai angkatan FK Unair yang saat ini sudah menyebar di berbagai provinsi mulai ujung timur, Papua dan ujung barat, Aceh.
Bahkan, mereka ada yang berkolaborasi dengan sejumlah dokter. Ada pula yang menjalankan pengmas seorang diri. Seperti yang dilakukan di alumni angkatan 2012 di Sulawesi Barat, karena menjadi satu-satunya dokter yang ditugaskan di sana.
Budi menyadari persoalan stunting tidak bisa selesai hanya sekali penyuluhan. Penanganannya perlu berkelanjutan karena stunting merupakan masalah multisektorial.
Ada nutrisi, pendidikan, dan masalah sosial seperti pencegahan pernikahan dini yang perlu diselesaikan. Namun ia berharap, setidaknya gerakan ini bisa menjadi stimulus yang lain untuk terus berbuat dan mengedukasi masyarakat mengenai stunting ini.
BACA JUGA: FK Unair Komitmen Beri Manfaat Masyarakat Lewat Kanal Edukasi
“Jadi kalau dikatakan apakah kita akan mendapatkan MURI, biarlah MURI yang mencatatnya. Kalau apa yang kita lakukan itu menurut kriteria mereka memenuhi syarat akan hal itu. Jadi sekali-kali bukan tujuan kami (mendapatkan MURI),” tambahnya.
Sekretaris Umum IKA Komisariat Kedokteran Unair Dr Bambang Wicaksono menambahkan, kolaborasi solid antar angkatan menjadi kunci di balik suksesnya program ini. Sejalan dengan semangat dies natalis FK Unair 2023 yakni berkolaborasi dan berkarya untuk negeri.
“Salah satu peran alumni adalah memberikan dukungan kepada fakultas kedokteran sebagai almamater. Terutama dalam hal Tri Dharma Perguruan Tinggi yang di dalamnya ada edukasi kepada masyarakat seperti ini,” tambahnya.
Sementara itu, Rekor MURI kedua adalah Webinar ilmiah dengan 69 topik bidang ilmu berbeda yang dilakukan selama 12 jam penuh. Webinar ini menghadirkan 69 narasumber dokter spesialis alumni FK Unair angkatan 1998.
BACA JUGA: Akademisi Unair: Pilpres 2024 Dipenuhi Drama Politik
“Kami mengangkat topik praktik klinis dari A -Z. Webinar berlangsung pada pada 15 Oktober 2023. Mulai pukul 08.00 WIB pagi dan berakhir pada pukul 22.00 WIB,” tambah Netua Dies Natalis Linda Astari, dr SpKK.
Linda menyebut, beberapa kegiatan dalam perayaan dies natalis tahun ini berbeda dari tahun lalu. Di mana cakupan daerah yang disasar lebih luas. Harapannya, kontribusi dari alumni FK Unair ini memberikan dampak luas masyarakat Indonesia.
Sedangkan Senior Customer Relations Manager MURI Andre Purwandono menuturkan, dua rekor baru yang dicatatkan ini masuk dalam kategori Museum Rekor Dunia Indonesia yaitu kategori superlative. Yaitu segala sesuatu yang dapat dihitung.
“Kedua rekor ini belum pernah tercatat di MURI dan kami dari MURI sangat terhormat memberikan penghargaan untuk IKA FK Unair,” tukasnya. [ipl/suf]






