Jakarta (beritajatim.com) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat dalam sepekan terakhir dengan koreksi sebesar -4,73% ke level 7.935. Penurunan tajam ini disertai aksi jual bersih (outflow) investor di pasar reguler senilai Rp1,2 triliun.
Penyebab utama pelemahan pasar modal domestik masih didominasi oleh kekhawatiran terkait ancaman MSCI yang akan memasukkan Indonesia ke dalam frontier market. Hal ini dipicu oleh belum terpenuhinya permintaan MSCI mengenai transparansi data pemegang saham oleh otoritas terkait.
Selain faktor MSCI, tekanan eksternal datang dari dinamika geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang memengaruhi pergerakan harga komoditas global. Presiden AS Donald Trump melaporkan adanya kemajuan dalam pembicaraan tidak langsung dengan Iran, meskipun AS tetap menjatuhkan sanksi baru terkait ekspor minyak.
“IPOT melihat risiko geopolitik tetap tinggi karena AS pada saat yang sama menjatuhkan sanksi baru terkait ekspor minyak Iran. Iran menyita kapal tanker kecil di Teluk Persia dan kedua pihak saling melontarkan ancaman. Kami menilai peluang eskalasi serangan terbatas di maritim masih terbuka meski jalur diplomasi berlanjut,” jelas Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi.
Di sisi lain, sentimen positif hadir dari meredanya ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan India yang menguntungkan ekonomi Indonesia sebagai mitra dagang utama. Kesepakatan tersebut mencakup penghapusan tarif tambahan dan komitmen pembelian produk AS senilai US$500 miliar, yang diharapkan memperlancar arus perdagangan global.
Namun, dari dalam negeri, pasar dikejutkan oleh langkah Moody’s yang memangkas outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif meskipun peringkat tetap di level Baa2. Moody’s menyoroti meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta risiko fiskal dari perluasan belanja sosial yang berpotensi menggerus kepercayaan investor asing.
“Moody’s menyoroti risiko fiskal dari perluasan belanja sosial, basis penerimaan negara yang lemah, serta ketidakjelasan tata kelola dan mandat sovereign wealth fund Danantara yang mengelola aset BUMN besar, sementara eskalasi risiko politik dan volatilitas pasar keuangan berpotensi menekan stabilitas makro jika tidak diimbangi dengan konsistensi kebijakan yang lebih kuat.”
Dampak dari revisi outlook tersebut langsung memicu penurunan batas atas peringkat (rating cap) pada emiten besar seperti Telkom, Pertamina, serta bank-bank papan atas. Emiten non-BUMN seperti Indofood CBP (ICBP) dan United Tractors juga terdampak karena meningkatnya sensitivitas terhadap stabilitas makro dan biaya pendanaan.
Kabar baiknya, fundamental ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tercatat tetap solid dengan pertumbuhan mencapai 5,11%, mengungguli capaian tahun sebelumnya. Sektor transportasi dan pergudangan menjadi motor penggerak utama pada triwulan IV yang tumbuh signifikan sebesar 5,39% secara tahunan.
Memasuki pekan kedua Februari 2026, fokus pasar akan tertuju pada data inflasi AS yang diproyeksikan melandai ke level 2,5% yoy. Kondisi ini diharapkan dapat memberikan ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter guna menenangkan volatilitas pasar global.
Secara teknikal, pergerakan IHSG pekan ini diproyeksikan bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah terbatas pada rentang support 7.716 dan resistance 8.207. Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap rilis data penjualan ritel domestik yang akan menggambarkan kekuatan daya beli masyarakat.
Merespons dinamika pasar tersebut, IPOT sebagai Wealth Creation Platform memberikan rekomendasi saham dan instrumen investasi dengan memanfaatkan fitur Multi-Account dan Shared Access untuk manajemen risiko:
- PNLF (Buy on Pullback): Target harga 292 dengan stop loss di bawah 260. Sektor asuransi jiwa menunjukkan pemulihan profitabilitas yang kuat.
- ADRO (Buy): Target harga 2.240 dengan stop loss di bawah 2.000. Memiliki posisi kas kuat dan kebijakan dividen yang disiplin di tengah transisi energi.
- PANI (Buy): Target harga 9.600 dengan stop loss di bawah 8.600. Mencatat marketing sales Rp4,3 triliun sepanjang 2025, sejalan dengan pengembangan kawasan premium.
- Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD): Rekomendasi buy on weakness untuk mengakumulasi dividen stabil di tengah koreksi harga saham konstituennya.






