Jakarta (beritajatim.com) – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan lalu tercatat melemah tipis sebesar -0,14% di tengah tekanan jual investor asing yang mencapai Rp3,8 triliun. Meski hanya berlangsung selama tiga hari bursa akibat libur panjang Idul Fitri, dinamika global tetap menjadi faktor dominan yang memengaruhi arah pasar saham Indonesia.
Tekanan tersebut tidak lepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang hingga kini masih berada dalam kondisi deadlock. Situasi ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi di Selat Hormuz, yang mendorong harga minyak mentah melonjak hingga USD 99 per barel.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menjelaskan bahwa lonjakan harga energi global turut berdampak pada kenaikan harga batu bara yang menembus USD 140 per ton.
Kondisi ini dipicu oleh pergeseran konsumsi energi global, di mana sejumlah negara seperti Jepang mulai beralih ke batu bara sebagai alternatif yang lebih stabil dibandingkan minyak dan gas.
Di sisi lain, sektor agrikultur juga mendapat sentimen positif dari bertahannya harga crude palm oil (CPO) Malaysia di level MYR 4.600 per ton. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan ekspor serta tingginya minat terhadap biofuel di tengah reli harga minyak mentah.
Dari dalam negeri, percepatan implementasi program biodiesel B50 turut menjadi katalis tambahan bagi sektor ini. Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati potensi risiko dari penurunan permintaan India serta perlambatan ekonomi China yang dapat memengaruhi prospek CPO ke depan.
Secara keseluruhan, dinamika global tersebut memberikan dampak kompleks bagi pasar domestik. Selain memicu tekanan pada nilai tukar rupiah dan mendorong capital outflow, kondisi ini juga membuka peluang pada saham-saham berbasis komoditas, khususnya sektor energi dan agrikultur.
Emiten batu bara, migas, serta CPO menjadi pihak yang paling diuntungkan dari kenaikan harga komoditas global. Selain itu, pelemahan rupiah juga memberikan keuntungan bagi perusahaan berbasis ekspor karena meningkatkan daya saing di pasar internasional.
Saat ini, pasar cenderung berada dalam fase wait and see dengan volatilitas yang masih tinggi. Selama ketegangan geopolitik belum mereda, IHSG diperkirakan bergerak sideways di rentang 6.745 hingga 7.323.
Memasuki pekan perdagangan 30 Maret hingga 2 April 2026 yang berlangsung selama empat hari bursa, perhatian investor akan tertuju pada sejumlah sentimen global dan domestik.
Salah satu fokus utama adalah pidato Ketua The Fed, Jerome Powell, yang dijadwalkan pada 30 Maret. Pernyataan tersebut dinilai krusial untuk membaca arah kebijakan moneter Amerika Serikat ke depan.
“Pasar akan mencari sinyal apakah The Fed akan tetap pada jalur kebijakan yang hati-hati atau justru membuka ruang pengetatan lebih lanjut, yang dapat memperkuat dolar AS dan menekan aset berisiko, termasuk emerging markets seperti Indonesia.”
Selanjutnya, perhatian akan beralih ke rilis data NBS Manufacturing PMI China pada 31 Maret. Konsensus memperkirakan adanya perbaikan ke level 50 dari sebelumnya 49, yang menjadi batas antara kontraksi dan ekspansi.
Dari dalam negeri, pasar akan mencermati rilis data S&P Global Manufacturing PMI serta inflasi Indonesia pada 1 April. Kedua indikator ini menjadi penting untuk melihat arah kebijakan Bank Indonesia, terutama di tengah potensi tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi global.
Menutup pekan, pasar global akan menanti data ketenagakerjaan Amerika Serikat melalui rilis Non-Farm Payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran pada 3 April. Konsensus menunjukkan pemulihan dengan proyeksi NFP naik ke 48 ribu dari sebelumnya minus 92 ribu, serta tingkat pengangguran meningkat tipis ke 4,5%.
“Data ini akan menjadi indikator kunci kesehatan ekonomi AS, sekaligus penentu ekspektasi arah suku bunga The Fed ke depan. Kombinasi antara pasar tenaga kerja yang kuat dan tekanan inflasi dari energi dapat memperkuat narasi ‘higher for longer’, yang berpotensi menjadi sentimen negatif bagi arus dana ke pasar emerging.”
Merespons kondisi pasar yang volatil, IPOT merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai memiliki prospek menarik dalam jangka pendek.
Rekomendasi pertama adalah buy ADRO dengan entry di level 2.540, target price 2.700, dan stop loss di bawah 2.460. Kenaikan harga batu bara global menjadi katalis utama bagi kinerja emiten ini.
Selanjutnya, buy on pullback PTBA di kisaran 3.010–3.070 dengan target price 3.240 dan stop loss di bawah 2.940. Saham ini dinilai lebih defensif karena memiliki kombinasi pasar domestik dan global.
Dari sektor agrikultur, LSIP direkomendasikan buy on pullback pada level 1.335–1.360 dengan target price 1.415 dan stop loss di bawah 1.295, seiring prospek positif harga CPO.
Sebagai alternatif yang lebih defensif, IPOT juga merekomendasikan pembelian reksa dana saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD) dengan entry di level 649, target price 678, dan stop loss di bawah 630. Instrumen ini dinilai menarik karena berfokus pada saham dengan dividen tinggi di tengah ketidakpastian global. [beq]






