Malang (beritajatim.com) – Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) menimbulkan pertanyaan besar bagi masa depan industri kreatif Indonesia: akankah teknologi ini menggilas nilai budaya lokal, atau justru memperkuatnya? Pertanyaan inilah yang menjadi fokus utama dalam Pra-Konferensi bertajuk “Mendorong Kedaulatan Kreatif: Budaya, AI, dan Pasar Masa Depan” yang digelar secara daring oleh Indonesia Creative Cities Network (ICCN) dan Indonesia Creative Cities Festival (ICCF).
Acara ini menjadi pemanasan menuju puncak perhelatan kreatif nasional ICCF 2025 “Nusantaraya – Senyawa Malang Raya” yang akan berlangsung di Malang Raya pada November mendatang. Ketua Umum ICCN, TB. Fiki C. Satari, menyebut ICCF sebagai gerakan masyarakat kreatif menuju Indonesia Emas.
“Tujuannya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif nasional agar mandiri dan berkelanjutan di tengah gempuran teknologi global,” ujar Fiki kepada beritajatim.com, Rabu (29/10/2025).
Pra-konferensi ini menghadirkan sejumlah pakar lintas bidang, di antaranya Adi Panuntun (CEO PT Sembilan Matahari), Yan Watequlis Syaifudin (Ketua AACE), Dwi Santoso (Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Digital RI), Nandhika Azhardian Noor (Amazon Web Services Public Sector Indonesia), dan Roby Muhammad (CEO Blessverage).
Didukung penuh oleh Amazon Web Services (AWS) sebagai mitra teknologi resmi ICCF 2025, acara ini menjadi momentum penting untuk memperkuat daya saing industri kreatif melalui inovasi digital. “Sebagai platform cloud terkemuka, AWS menyediakan layanan komprehensif mulai dari komputasi, penyimpanan data, analitik, keamanan siber, hingga kecerdasan buatan. Layanan ini banyak dimanfaatkan oleh perusahaan rintisan, industri kreatif, hingga lembaga pemerintah untuk menekan biaya, meningkatkan efisiensi, dan mempercepat inovasi,” terang Fiki.
Dukungan AWS dipandang sebagai wujud sinergi antara teknologi global dan ekosistem kreatif lokal. Kolaborasi ini diharapkan membuka peluang baru bagi kota-kota kreatif di Indonesia untuk memanfaatkan data, konten digital, dan teknologi imersif sebagai bagian dari transformasi ekonomi kreatif nasional.
“ICCF adalah gerakan besar yang memadukan potensi Batu, Malang, dan Kabupaten Malang,” ujar Ketua OC ICCF 2025, Sam Vicky Arief H.

Pra-konferensi ini merupakan bagian dari “Road to ICCF 2025” yang puncaknya akan digelar pada 6–10 November 2025 di Malang Raya dengan tema “Nusantaraya – Senyawa Malang Raya.” Festival tersebut menegaskan kekuatan kolaborasi tiga wilayah — Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang — sebagai poros ekonomi kreatif berbasis budaya dan teknologi.
Rangkaian acara utama akan dibuka pada 6 November di Kota Batu dengan peresmian Selecta Living Museum, dilanjutkan Agro Creative Tour dan Produk Lokal Fest pada 7 November. Selanjutnya, Kota Malang akan menjadi tuan rumah International Conference on AI, Media Art, and Digital Humanity di Malang Creative Center (MCC) pada 8 November, bersamaan dengan Festival Mbois 2025 dan Kongres ICCN yang dihadiri lebih dari 260 delegasi kota/kabupaten kreatif se-Indonesia.
Puncak perayaan akan digelar pada 9 November di tiga titik utama di Kabupaten Malang: Boon Pring Bamboo Living Museum, KEK Singhasari, dan Candi bersejarah.
Wali Kota Malang Dr. Wahyu Hidayat menegaskan bahwa tema “Senyawa Malang Raya” mencerminkan kekuatan kolaboratif lintas wilayah dalam menjadikan kreativitas sebagai motor ekonomi berkelanjutan.
Para penggerak kreatif seperti Dadik Wahyu Chang, Alan Wahyu Hafiludin, dan Boim menambahkan bahwa kekuatan Malang Raya tumbuh dari komunitas, budaya, dan inovasi yang berakar di masyarakat. Dari ruang digital hingga desa kreatif, dari gastronomi hingga media art, Malang Raya menunjukkan bahwa kreativitas adalah energi kolektif yang mampu membangun masa depan berdaya dan berkelanjutan — terlebih dengan dukungan teknologi global seperti AWS. [dan/beq]






