Ngawi (beritajatim.com) – Hutan jati milik Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ngawi terbakar. Selama delapan bulan ini, sudah 41 hektar lahan hutan jati produksi itu terbakar.
Terbaru, hutan jati di kawasan Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Alastuwo masuk desa Pandena Kecamatan Karanganyar Kabupaten Ngawi, Jawa Timur terbakar pada Rabu (16/8/2023) pukul 16.00 WIB. Warga di dekat lokasi itu pun langsung bergerak cepat untuk membuat ilaran agar api tak menjalar semakin luas.
Catatan Perhutani KPH Ngawi, sejak 1 Januari 2023 hingga 16 Agutus 2023, sudah terjadi 30 kali kebakaran hutan yang terjadi di sejumlah RPH. Luasannya mencapai 41 hektar lebih. Namun, kerugian hanya Rp3,5 juta saja. Karena, kebakaran tak sampai berdampak pada tegakan pohon jati.
Baca Juga: Kebakaran Lahan di Tahura R Soerjo Mojokerto Capai 18 Hektar
Namun, hingga kini belum diketahui pasti penyebab kebakaran di lahan seluas puluhan hektar itu. Pun, diduga masih ada warga yang sembarangan membuat sumber api atau membuang putung rokok. Daun jati yang gugur dan sudha kering itu mudah terbakar.

“Lahan yang mengalami kebakaran cukup luas. Selama sekitar delapan bulan tahun ini, sudah terjadi 30 kali. Luasannya lebih dari 41 hektar. Meski begitu, kebakaran tidak sampia berdampak pada tegakan pohon jati. Hanya daun kering dan semak belukar saja,” kata Adm Perhutani KPH Ngawi Tulus Budyadi, Rabu (16/8/2023)
Baca Juga: Warung Soto Ayam Lamongan Terbakar, Rugi Rp 40 Juta
Diketahui, tota luasan hutan jati yang berada di bawah KPH Ngawi mencapai 35.000 hektar. Tulus memperkirakan potensi kebakaranhutan masih terus terjadi. Mengingat, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan Agustus 2023 hingga September 2023 jadi puncak musim kemarau.
”Kami sudah melakukan berbagai macam pencegahan dan sosialisasi pada masyarakat sekitar, utamanya untuk turut menjaga hutan. Serta kami harap segera melapor jika terlihat muncul titik api,” katanya. [fiq/ian]






