Blitar (beritajatim.com) – Tanggal 1 April 2026 ini, Kota Blitar resmi berusia 120 tahun. Puluhan agenda untuk memeriahkan hari ulang tahun (HUT) Bumi Bung Karno pun sudah tersusun rapi.
Namun, di balik kemegahan seremonial yang telah disiapkan, terselip kado pahit yang sulit disembunyikan dari mata publik. Kado itu adalah keretakan hubungan antara Wali Kota, Syauqul Muhibbin, dan Wakil Wali Kota Blitar, Elim Tyu Samba.
Meski dulu sepakat untuk berjalan bersama, namun nampaknya kini kedua pemimpin di Bumi Bung Karno memilih jalannya masing-masing. Keduanya pun jarang sekali tampil dalam satu panggung penting.
Bahkan, di hari jadi ke-120 Kota Blitar ini keduanya juga tak tampak duduk bersama. Dalam peringatan ini, hanya ada Syauqul Muhibbin, sang Wali Kota Blitar. Sementara Elim Tyu Samba tak tampak hadir.
Soal hubungannya dengan Elim Tyu Samba, Wali Kota Blitar (Mas Ibin) memang menjawab normatif. Menariknya, ia justru memberikan pengakuan yang tak terduga saat ditanya soal kapan terakhir kali dirinya menjalin komunikasi lewat HP dengan pasangannya tersebut.
“Sepertinya kok lama sekali (tidak komunikasi lewat WhatsApp), ya tidak japri tidak apalah, lama sekali, mungkin ditanyakan saja japri atau enggak (ke Wawali),” ucap pria yang akrab disapa Mas Ibin tersebut pada Rabu (1/4/2026).
Usai menang Pilkada 2024 kemarin, hubungan antara Syauqul Muhibbin dengan Elim Tyu Samba memang tampak kaku. Tak ada keharmonisan yang terlihat utuh di hadapan publik.
Bahkan ketegangan di antara keduanya sempat memuncak beberapa waktu lalu. Kala itu Elim Tyu Samba bahkan mengancam akan melaporkan Syauqul Muhibbin ke Menteri Dalam Negeri usai dirinya merasa tak “diorangkan”.
“Saya pikir ini sudah waktunya saya melaporkan mised (kegagalan) ini, mungkin ada tindak lanjut dari saya akan menyurati Kemendagri,” ucap Elim pada Senin (13/10/2025) lalu.
Ancaman itu diungkapkan Elim buntut dari rotasi dan mutasi jabatan aparatur sipil negara (ASN) di lingkup Pemkot. Elim mengungkapkan bahwa friksi keduanya bukan hanya soal rotasi dan mutasi jabatan ASN semata. Wakil Wali Kota Blitar itu juga bongkar-bongkaran soal perpecahan dalam proses perencanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2026.
Sekali lagi Elim mengaku tak pernah diajak bicara oleh Syauqul Muhibbin perihal perencanaan APBD 2026. Menurut Elim, apa yang dilakukan Wali Kota Blitar itu sudah keterlaluan.
“Penganggaran diproses PAK 2025 dan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) untuk APBD 2026 sama sekali saya tidak diajak bicara sama sekali. Saya hanya sekali mendapatkan undangan rancangan anggaran di tahun 2026 dari Kemenkeu, yang anggaran kita dipotong Rp114 miliar, cuma satu kali itu,” bebernya kala itu.
Kedua pimpinan di Bumi Bung Karno itu bahkan sempat saling lempar sindiran soal jongos dan babu. Kala itu, Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, menyebut bahwa sang wakil adalah pembantu.
Perkataan itu pun kemudian bergulir dan membuat gaduh. Pasalnya, pernyataan “pembantu” yang dilontarkan Wali Kota Blitar tersebut dianggap merendahkan posisi Wakil Wali Kota (Wawali) Kota Blitar, Elim Tyu Samba.
Namun persepsi itu dibantah oleh Syauqul Muhibbin. Orang nomor satu di Kota Blitar itu pun menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidak ada niatan apa pun untuk merendahkan posisi Wakil Wali Kota (Wawali) Blitar.
“Jadi wali kota itu, saya itu ya juga pembantu, ya pelayan, ya babu masyarakat,” ucap Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin pada Rabu (15/10/2025).
Nyatanya friksi di antara keduanya belum benar-benar usai. Kini di HUT ke-120, ketidakharmonisan Syauqul Muhibbin dan Elim Tyu Samba pun kembali tampak.
Kondisi ini tentu membuat masyarakat Kota Blitar bingung sekaligus kecewa. Mayoritas masyarakat tentu berharap pemimpin di Bumi Bung Karno bisa akur dan kompak dalam memajukan perekonomian dan kesejahteraan, bukan justru disuguhi drama perpecahan.
“Sebagai masyarakat tentu kami berharap agar keduanya bisa kompak dan berjalan seirama. Kalau terus bertengkar kapan ada inovasinya, kapan majunya, bahkan kalau terus seperti ini justru tidak kondusif,” ucap Linda, warga Kota Blitar. (owi/kun)







4 Komentar
betul. belum 1 tahun jadi walikota sudah g akur sama wakilnya, g ada program yg bagus. pegawai kontrak yang sudah bertahun tahun di ganti semua, ada warga kab di masukan juga sebagai kontrak di kantor dinas dinas kota. ijin cuma peduli sama TS nya.
regulasi nya sudah jelas , yg mengatur tentang tupoksi Walkot & Wawali.
rasanya juga mustahil klu sampai saat ini walikota belum menerbitkan Perwali tentang penugasan Wakil Walikota.
ini menunjukan keduanya belum matang mengelola dinamika di internal pemkott maupun faktor politik extetnal
mending mengundurkan diri
koyok ngono kui to cah pilihanmu? wkwkwkwwk