Hukum & Kriminal

Pimpinan Ponpes di Jombang Cabuli Santri, Polisi Sita Kutang dan Celana Dalam

Polisi menunjukkan barang bukti yang disita dala kasus pencabulan dengan tersangka pimpinan Ponpes di Jombang, Senin (15/2/2021). [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (berijatim.com) – Polres Jombang menyita sejumlah barang bukti dari kasus pencabulan dengan tersangka pimpinan Ponpes (Pondok Pesantren) berinisial S di Kecamatan Ngoro. Barang bukti itu diantaranya pakai dalam milik santri berupa bra atau kutang dan CD (celana dalam).

Hal itu disampaikan Kapolres Jombang AKBP Agung Setyo Nugroho saat rilis kasus tersebut di Mapolres setempat, Senin (15/2/2021). “Selain menangkap pelaku, kami juga menyita pakaian dalam milik korban,” ujar Kapolres Jombang.

Bukan hanya itu, pakaian pelaku juga disita sebagai barang bukti. Di antaranya baju motif batik dan peci warna putih, serta baju koko warna putih. Seluruh barang bukti tersebut disegel dalam plastik bening. Kapolres Jombang memamerkan sejumlah barang bukti itu.

Kapolres Jombang menjelaskan, hingga saat ini ada enam korban. Sedangkan pelapornya adalah dua orang wali santri. Laporan tersebut masuk ke Polres Jombang pada 8 dan 9 Februari 2021. Semesntara perbuatan cabul S ini dilakukan di pesantrennya sejak dua tahun terakhir.

Modusnya, S menghampiri santrinya usai menjalankan salat isyak. Kemudian melakukan bujuk rayu agar santri tersebut mau melakukan hubungan suami istri. Ada juga yang dilakukan setelah tahajud. Lagi-lagi, S membungkusnya dengan bujuk rayu.

Pimpinan Ponpes di Jombang berinisial S mengenakan baju tahanan, Senin (15/2/2021). [Foto/Yusuf Wibisono]
Karena takut, santri menuruti permintaan pimpinan ponpes itu. Menurut Kapolres, santri yang disasar rata-rata berusia 16 sampai 17 tahun. “Selain dari Jombang, korbannya ada yang berasal dari Jawa Tengah.

Kapolres menduga, korban pencabulan yang dilaukan santri bukan hanya enam orang. Namun mencapai belasan. “Ini masih kami kembangkan. Bagi korban yang belum melapor disilakan untuk melapor,” kata Agung Setyo Nugroho.

Atas perbuatannya, pimpinan pesantren ini dijerat Pasal l76 e junto Pasal 82 ayat 1 UU RI No 35 Tahun 2014. “Ancamannya 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun, serta denda maksimal Rp 5 miliar,” pungkas Kapolres Jombang. [suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar