Hukum & Kriminal

Kasus Dugaan Penggelapan yang Libatkan Pengusaha di Jombang Naik Tahap Penyidikan

Pelapor, Diana Sowito didampingi kuasa hukumnya Andri Rochmad, Jumat (14/7/2023)
Pelapor, Diana Sowito didampingi kuasa hukumnya Andri Rochmad, Jumat (14/7/2023)

Jombang (beritajatim.com) – Kasus dugaan penggelapan dengan terlapor salah satu pengusaha di Jombang, Soetikno (56), naik dari penyelidikan ke tahap penyidikan. Dengan begitu, Sat Reskrim Polres Jombang sudah menemukan adanya unsur pidana dalam perkara tersebut.

Kepastian itu terungkap setelah penyidik pidana umum (Pidum) Satreskrim Polres Jombang melakukan gelar perkara. “Kami sudah melakukan gelar perkara pekan kemarin. Hasilnya, status kasus ini tahapannya naik dari penyelidikan ke penyidikan,” ujar Kasat Reskrim Polres Jombang AKP Aldo Febrianto, Jumat (14/7/2023).

Selanjutnya, langkah seperti apa yang dilakukan oleh polisi? Aldo menjelaskan, pihaknya akan melakukan pemanggilan kembali kepada sejumlah pihak. Mereka, baik terlapor maupun pelapor, bakal dimintai keterangan tambahan.

BACA JUGA:
Pengusaha di Jombang Dipolisikan Adik Ipar

“Usai mendapatkan keterangan saksi serta ada bukti baru, penetapan tersangka baru bisa kita lakukan. Sementara ini kita lakukan pemanggilan terlebih dulu. Nah, dari hasil kesaksian serta bukti baru, baru masuk gelar penetapan tersangka,” tegas Aldo.

Kasus dugaan penggelapan ini menyita perhatian publik di Jombang. Pasalnya, antara pelapor dan terlapor adalah saudara ipar. Soetikno merupakan kakak ipar dari pelapor, Diana Soewito. Kasus ini menggelinding ke Polres Jombang pada Mei 2023.

Pengusaha beralamat di Jl KH Wahid Hasyim Jombang ini diduga melakukan pencurian serta penggelapan uang milik adik kandungnya, Subroto Adi Wijaya (42), yang tak lain suami dari Diana. Uang yang ada di rekening suami Diana diambil secara diam-diam oleh Soetikno.

Ceritanya, saat itu Diana tengah merawat sang suami, Soebroto Adi Wijaya (42), sedang sakit. Subroto akhirnya meninggal pada 2 Desember 2022. Sebenarnya Diana tidak ada niatan untuk membawa masalah ini ke ranah hukum.

Niatan tersebut muncul setelah Diana mengajukan print out (cetak) ke Bank BCA sebagai ahli waris satu-satunya dari almarhum. Nah, saat melihat cetak biru rekening tersebut Diana terkaget-kaget. Pasalnya, mendapati beberapa transaksi janggal ke sejumlah rekening. Ketika dicermati, tanggal transfer terjadi ketika sang suami tengah menjalani perawatan intensif tim medis.

BACA JUGA:
Menantu Pidanakan Mertua Sendiri di Jombang

Bukan hanya transfer janggal di awal November hingga Desember 2022. Wanita ini juga mendapati lanjutan transfer pada 3 Desember ke rekening terlapor. Rinciannya, transfer pertama pada 4 November 2022 sebesar Rp 45 juta. Kemudian yang terkhir tanggal 3 Desember 2022. Dalam kurun waktu tersebut suami Diana sedang menjalani perawatan hingga akhirnya meninggal.

Padahal mulai perawatan hingga meninggal, almarhum tidak mengoperasikan handphone atau telepon seluler. Sedangkan, serangkaian transaksi tadi dilakukan melalui aplikasi mobile banking. Selain uang di rekening yang dikuras, pelapor juga menyebarkan kabar tidak benar kepada pihak keluarga bahwa pelapor menelantarkan suaminya hingga mengalami sakit parah.

Terlepas dari itu semua, atas dinaikkannya kasus tersebut dari penyelidikan ke penyidikan, kuasa hukum pelapor, Andri Rochmad Martanto, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas kinerja jajaran Sat Reskrim Polres Jombang.

“Tentu kami memberikan apresiasi ke Sat Reskrim Polres Jombang. Karena terlapor merupakan salah satu tokoh di sebuah organisasi. Sudah tentu tekanan yang sangat besar benar-benar dirasakan oleh penyidik,” kata Andri, Jumat (14/7/2023).

“Nah, dengan naiknya status dari penyelidikan ke penyidikan, membuktikan jika jajaran Satreskrim berpihak pada pencari keadilan. Mereka bekerja secara profesional. Sekali lagi kami memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya untuk jajaran Satreskrim Polres Jombang,” sambung pengacara asal Surabaya ini.

BACA JUGA:
Desember yang Kelabu Bagi Diana

Andri menambahkan, dengan naiknya kasus tersebut ke penyidikan, berarti alat bukti dugaan pidana yang ia laporkan terpenuhi. Yaitu minimal dua alat bukti. “Dengan naiknya penyidikan, proses selanjutnya akan dapat kita ikuti. Mungkin kita tunggu pemanggilan selanjutnya,” katanya.

Soetikno yang dikonfirmasi terkait hal itu membenarkan bahwa dirinya dilaporkan ke polisi oleh adik iparnya. Bahkan dirinya juga sudah menjalani pemeriksaan di Polres Jombang. Namun demikian Soetikno membantah bahwa menguras isi rekening almarhum adiknya.

Menurutnya Soetikno, rekening tersebut merupakan hasil iuran dari keluarga besarnya saat Soebroto Adi Wijaya (42) sakit. Bahkan dirinya pribadi juga memberikan bantuan kepada adiknya mulai 2017. Soetikno juga menanggung biaya rumah sakit selama sang adik sakit.

“Jadi tidak benar kalau saya dituding menggelapkan. Saat adik saya masih hidup, pernah ngomong agar memakai uang tersebut. Rekening itu juga hasil iuran keluarga untuk pengobatan. Kalau memang perkara ini diteruskan, saya akan lapor balik,” pungkas Soetikno ketika dihubungi secara terpisah. [suf]


Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks



Apa Reaksi Anda?

Komentar