Hukum & Kriminal

Pencabulan di Jombang

Bujuk Rayu Kiai Cabul dan Malam Jahanam di Asrama Pesantren

Pelaku pencabulan terhadap santri Jombang digelandang polisi, Senin (15/2/2021). [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (beritajatim.com) – Seorang santri berinisial D (17) tak kuat lagi tinggal di asrama salah satu pesantren di Kecamatan Ngoro Jombang. Asrama yang dulunya membikinnya betah, kini berubah menjadi gundah. Malam-malam berada di asrama pesantren berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.

D akhirnya kabur dari pesantren tersebut pada Mingggu (7/2/2021). Dia kembali ke rumah. Santri berparas ayu ini menumpahkan kejadian yang dialaminya selama di asrama pesantren kepada orangtuanya. Kepada orangtuanya, D mengisahkan bahwa telah dicabuli oleh orang yang dihormatinya, yakni S (50), pimpinan Ponpes (Pondok Pesantren) di Kecamatan Ngoro itu.

Cerita yang disampaikan D kepada orangtuanya seperti gelegar petir di siang bolong. Sangat mengangetkan. Karena tidak terima atas perlakuan pimpinan Ponpes, orangtua D akhirnya melaporkan kasus tersebut ke polisi.

Polisi segera bertindak. Bukti dan saksi dukumpulkan. Terakhir, pimpinan ponpes bertitel sarjana ini diciduk di rumahnya. Dia kemudian digelandang ke Polres Jombang. Dari pemeriksaan, akhirnya mengembang. Santri yang dicabuli bukan hanya D. Tapi ada lima santri cantik lainnya. Bahkan, pimpinan ponpes ini juga menyetubuhi salah satu di antaranya.

Pencabulan terhadap D terjadi pada 2019. Pelaku sendiri lupa tanggal dan bulannya. Namun saat itu malam mulai menggelincir ke arah pagi atau pukul 02.00 WIB dini hari. Pelaku mendatangi asrama yang dihuni oleh D. Pandangan S menyapu ruangan. Korban sedang lelap tertidur di asrama tersebut.

Polisi menunjukkan barang bukti yang disita dala kasus pencabulan dengan tersangka pimpinan Ponpes di Jombang, Senin (15/2/2021). [Foto/Yusuf Wibisono]
Melihat pemandangan itu, nafsu S mulai mendidih. Dia kemudian mendekati tempat tidur santri berparas ayu tersebut. S membelai rambut korban dengan penuh nafsu. Saat itulah D kaget dan terbangun. Namun S langsung mendaratkan ciuman sembari bertanya apakah D sudah salat tahajud apa belum. Tentu saja, korban syok.

Melihat korban kebingungan, S meminta santri tersebut segera mengambil air wudu guna menunaikan salat malam. D menurutinya. Ternyata serangan S belum berakhir. “Setelah salat tahajud, pimpinan ponpes ini melaukan pencabulan lagi,” kata Kapolres Jombang AKBP Agung Setyo Nugroho, Senin (15/2/2021).

Sejak itu, malam-malam jahanam terus terjadi di asrama pesantren. Pelaku kerap datang dan melakukan tindakan tak senonoh kepada korban. Bahkan lebih gila dari sebelumnya. Korban pun semakin tertekan. Tinggal di asrama seperti di atas tumpukan bara. Setiap saat bahaya selalu mengancam. Karena itu pula D nekat kabur dari pesantren yang berada di Kecamatan Ngoro tersebut.

Bukan hanya D, tapi petaka tersebut juga menimpa lima santri cantik lainnya. Semisal yang dialami U (17). Lagi-lagi, dengan bujuk rayu, pimpinan Ponpes ini memperdayai korbannya. Ketika dingin mulai menusuk tulang, S menyelinap ke kamar U. Setelah berbasa-basi, S menebar birahi.

Korban kedua ini bukan hanya dicabuli, tapi juga disetebuhi sebanyak tiga kali di lokasi pesantren. Kejadiannya sekitar pukul tiga dini hari pada 2020. Ya, S yang kiai di pesantren tersebut berubah menjadi predator bagi santri-santrinya.

“Sementara, jumlah korban ada enam santri perempuan. Kita masih kembangkan lagi, karena informasinya ada sekitar 15 santri yang telah dicabuli,” kata Kapolres Jombang saat menggelar konferensi pers di halaman belakang Mapolres.

Bujuk Rayu Pelaku

Pimpinan Ponpes di Jombang berinisial S mengenakan baju tahanan, Senin (15/2/2021). [Foto/Yusuf Wibisono]
Dalam menjalankan aksinya, lanjut Kapolres, pelaku menyalahgunakan jabatannya sebagai pimpinan pesantren. Karena dengan jabatan tersebut santri menuruti permintaannya. Selain itu, S juga menebar bujuk rayu kepada santri yang hendak disetubuhi.

Yakni, selalu meyakinkan korbannya bahwa melakukan hubungan suami istri adalah sesuatu hal yang mulia dan akan menjadi orang yang beruntung. “Persetubuhan ini dilakukan tiga kali selama 2020 kepada salah satu santri,” lanjutnya.

Senin (15/2/2021), S digelandang dari ruang tahanan Polres Jombang. Dia berjalan tegak saat menjadi ‘bintang’ dalam pers rilis kasus tersebut. Tangan pria yang memiliki 300 santri ini diborgol, kaus tahanan warna oranye membalut tubuhnya. Pada mulut dan hidungnya tertutup selembar masker.

Namun ketika disodori pertanyaan wartawan terkait aksi cabul yang dilakukannya, pria bertitel sarjana pendidikan ini irit bicara. Mulutnya terkunci rapat. Hanya satu kata yang meluncur dari bibirnya. “Khilaf,” kata S, lalu menunduk.

Selain menangkap S, polisi juga menyita sejumlah barang bukti. Diantaranya, HP merk oppo, celana dalam warna putih, BH atau bra warna merah muda, sarung warna hitam, kemeja lengan panjang warna merah muda, serta jilbab putih. Sedangkan yang disita dari pelaku meliputi peci warna putih, kemeja motif batik, HP merk Vivo, serta sarung warna hijau.

Ada dua pasal yang dijeratkan kepada pelaku. Pertama kasus pencabulan, yakni pasal 76E Jo pasal 182 ayat 1 dan 2 Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya minimal 5 tahun penjara, maksimal 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 5 miliar.

Sedangkan kasus persetubuhan anak di bawah umur, S dijerat pasal 76D Jo pasal 81 ayat 2 dan 3 Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2014, perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak.

“Ancaman hukumannya sama dengan kasus pencabulan. Namun karena pelaku adalah pendidik atau pengasuh, makam ancaman hukuman tersebut ditambah sepertiga dari ancaman pidana,” pungkas Kapolres Jombang AKBP Agung Setyo Nugroho. [suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar