Hukum & Kriminal

Alasan Ekonomi, Nenek-nenek di Jombang Jadi PSK

foto/ilustrasi

Jombang (beritajatim.com) – TM dan DY hanya bisa pasrah ketika digelandang oleh polisi dari tempatnya mangkal, yanni di warung pingir jalan raya Bandarkedungmulyo, Jombang. Usia kedua perempuan itu tidak muda lagi. Masing-masing 60 tahun.

Namun di usianya yang sudah senja itu, mereka memilih jalan hidup sebagai PSK (penjaja seks komersil). Keduan tergaruk saat petugas menggelar razia pekat (penyakit masyarakat). Operasi itu digelar dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Setiap malam, TM dan DY mangkal di sebuah warung. Dia menunggu datangnya para pelanggan yang hendak mereguk kenikmatan. Walhasil, harapan itu bersambut. Keduanya kedatangan tamu. Mereka masuk bilik, lalu mengumbar birahi. Namun apes, saat melayani tamu, datanglah sejumlah petugas dari Polres Jombang, Rabu (7/4/2021) malam.

Karuan saja, dua PSK berusia senja ini kaget bukan kepalang. Mereka hanya bisa pasrah ketika ditangkap petugas. “Mereka terjaring razia saat kencan dengan pelanggannya, yakni seorang sopir. Keduanya biasa mangkal di warung tepi jalan raya Bandarkedungmulyo,” kata Kasat Reskrim Polres Jombang, AKP Teguh Setiawan, Kamis (8/4/2021).

Di Polres Jombang, TM dan DY diminta membuat pernyataan yang isinya tidak akan mengulangi perbuatan serupa. Mereka tida ditahan. Hanya dikenakan wajib lapor. Menurut Teguh Setiawan, ada beberapa pertimbangan kedua PSK itu tidak ditahan, yakni dari segi umur dan kesehatan.

Kepada petugas, DY dan TM mengaku baru satu tahun terjun ke lembah hitam. Itu dilakukan bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah masalah ekonomi. “Meski tidak kami tahan, mereka sudah kita tetapkan sebagai tersangka. Keduanya dijerat pasal 296 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang prostitusi,” pungkas Teguh. [suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar