Surabaya(beritajatim.com)- Perubahan dunia kerja saat ini berlangsung jauh lebih cepat dibanding satu dekade lalu. Transformasi digital, ketidakpastian ekonomi, hingga dinamika pasar tenaga kerja membuat peran Human Resources (HR) semakin kompleks dan penuh tekanan. Tak heran jika banyak praktisi HR mengaku berada dalam situasi under pressure.
Isu inilah yang menjadi sorotan utama dalam webinar bertajuk “Building Agile Talent for the Future of Work” Jumat sore (13/2/2025) yang diselenggarakan oleh Magnet Solusi Integra, sebuah perusahaan konsultan pengembangan SDM dan bisnis berbasis di Surabaya yang digawangi oleh Dra. I. Novianingtyastuti, M.M., Psikolog sebagai Chief Executive Officer
Webinar ini menghadirkan Anita Dwi Kurnia, Head of Human Capital PT Intiland Development Tbk, sebagai narasumber utama. Diskusi berfokus pada bagaimana organisasi bisa membangun agile talent agar tetap relevan dan bertahan di tengah perubahan dunia kerja yang serba tidak pasti
Menurut Anita, dunia HR saat ini menghadapi tantangan berlapis. Perubahan terjadi begitu cepat, bahkan sebelum satu persoalan dipahami dengan baik, sudah muncul tantangan baru. Masalah di organisasi pun semakin kompleks dan saling berkaitan, sehingga sulit menentukan prioritas penyelesaian.
“Di sisi lain, banyak perusahaan besar yang terlihat kuat ternyata rapuh. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor menjadi bukti bahwa stabilitas bisnis tidak lagi bisa dijamin,” jelasnya.
Tak hanya itu, Anita membongkar data dari World Health Organization (WHO) yang menunjukkan bahwa tingkat kecemasan, stres, dan depresi di tempat kerja terus meningkat. Dunia kerja bukan hanya menekan secara profesional, tetapi juga berdampak serius pada kesehatan mental karyawan.
Salah satu isu paling krusial yang dibahas adalah semakin ketatnya persaingan mendapatkan talenta terbaik. Saat ini, pasar tenaga kerja mengalami ketimpangan antara kebutuhan perusahaan dan ketersediaan kandidat berkualitas.
Beberapa data yang diungkap dalam webinar antara lain:
Sekitar 75 persen karyawan mengaku mendapat tawaran kerja dari perusahaan lain lebih dari satu kali.
68 persen karyawan merasa memiliki daya saing tinggi di pasar kerja.
Dari kebutuhan 100 posisi manajerial, hanya tersedia sekitar 42 kandidat yang benar-benar memenuhi kualifikasi.
Kondisi ini membuat perusahaan bukan hanya kesulitan merekrut, tetapi juga mempertahankan talenta terbaik agar tidak pindah ke kompetitif.
Anita menekankan bahwa merekrut talenta dari luar memang terlihat cepat, tetapi memiliki tantangan tersendiri. Selain biaya yang lebih besar, sering kali muncul masalah perbedaan budaya, nilai kerja, hingga adaptasi terhadap sistem internal perusahaan.
“Sebaliknya, mengembangkan talenta dari dalam dinilai lebih berkelanjutan. Karyawan internal sudah memahami budaya organisasi, memiliki loyalitas, serta lebih mudah disinergikan dengan visi perusahaan. Namun, strategi ini membutuhkan investasi jangka panjang dalam bentuk pelatihan dan pengembangan kompetensi,” terangnya lagi.
Di era sekarang imbuh Anita, perusahaan tidak bisa hanya mengandalkan gaji tinggi untuk menarik karyawan. Generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, semakin memperhatikan reputasi perusahaan, nilai sosial, serta makna pekerjaan.
Employer branding menjadi faktor krusial. Perusahaan perlu membangun citra positif melalui berbagai hal di antaranya:
Program CSR yang berdampak nyata.
Lingkungan kerja yang sehat dan inklusif.
Kesempatan pengembangan karier yang jelas.
Pengalaman kerja yang bermakna bagi kehidupan karyawan.
“Talenta terbaik tidak hanya mencari tempat bekerja, tetapi mencari organisasi yang bisa memberi arti dan tujuan hidup,” imbuh Anita lagi.
Konsep agile talent bukan sekadar karyawan yang serba bisa. Lebih dari itu, agile talent adalah individu yang mampu belajar cepat, terbuka terhadap perubahan, kolaboratif, dan siap menghadapi ketidakpastian.
Namun, menurut Anita, agile talent tidak akan tumbuh jika organisasi itu sendiri tidak dikelola dengan baik. HR harus menjadi penggerak utama transformasi budaya, bukan hanya pengelola administrasi.
Dalam webinar tersebut, terdapat empat elemen utama yang menjadi fondasi pengelolaan agile talent yakni:
Tujuan Organisasi yang Jelas
Perusahaan harus memiliki visi dan arah yang tegas agar karyawan memahami ke mana organisasi bergerak.
Analisis Kebutuhan Talent
HR perlu memetakan kompetensi apa saja yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan masa depan.
Struktur Komunikasi Terbuka
Informasi harus mengalir dua arah, bukan hanya dari atasan ke bawahan.
Tanpa Sekat Antar Struktur
Kolaborasi lintas divisi harus dibangun agar ide dan inovasi bisa berkembang
Webinar ini menegaskan bahwa peran HR di masa depan tidak lagi sebatas mengurus absensi, kontrak, atau rekrutmen. HR dituntut menjadi mitra strategis manajemen dalam menjaga daya tahan organisasi.
HR harus mampu membaca tren, memprediksi kebutuhan kompetensi, serta menciptakan ekosistem kerja yang adaptif. Di tengah dunia yang penuh tekanan dan ketidakpastian, agile talent menjadi kunci utama agar perusahaan tidak sekadar bertahan, tetapi juga tumbuh secara berkelanjutan. [aje]






