Surabaya (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur (Jatim) melalui Dharma Wanita Persatuan (DWP) bersama Sub-Substansi Yankestrad menggelar Seminar Kesehatan Tradisional Memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-58 Tahun 2022 di Ruang Mahkota Dewa, Kantor Dinkes Provinsi Jatim, Selasa (1/11/2022).
Seminar ini mengusung tema ‘Asuhan Mandiri Pemanfaatan Toga dan Akupresur untuk Mengendalikan Hipertensi’. Dua narasumber dihadirkan, yakni Ario Imandiri dr SpAk dari Perhimpunan Dokter Spesialis Akupuntur Medik Indonesia (PDAI) dan dr Ratna Yulianti MM dari UPT Laboratorium Herbal Materia Medica, Batu.
Tema itu sendiri diangkat lantaran hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 lalu, menyebut bahwa Indonesia mengalami kenaikan prevelensi Penyakit Tidak Menular (PTM). Dimana, PTM tersebut sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia, seperti stroke dan jantung yang merupakan komorbid dari hipertensi.
[berita-terkait number=”5″ tag=”dinkes-jatim”]
Kepala Dinkes Provinsi Jatim dr Erwin Astha Triyono mengungkapkan, bahwa di tahun 2013-2018, telah terjadi peningkatan kasus hipertensi sebesar 8,3%. Sedangkan jumlah penderita hipertensi di Jatim tahun 2021 sebesar 5.271.569 orang, dan mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya, yakni sebesar 27%.
“Hipertensi atau tekanan darah tinggi ini suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik lebih dari atau sama dengan 140 mmHg dan atau tekanan diastolik lebih dari atau sama dengan 90 mmHg,” jelas dr Erwin.
Di sisi lain, ia menyebut bahwa capaian indikator kinerja SPM Provinsi Jatim tahun 2017-2021 terkait penderita hipertensi yang mendapatkan pelayanan kesehatan masih rendah, yakni 50% dari target 100%. Kondisi itu disebabkan oleh pengobatan hipertensi yang memerlukan kesabaran dan pengobatan secara terus menerus.
“Perlu ada pengendalian hipertensi supaya tidak menjadi penyakit yang lebih berat seperti stroke, jantung dan lain sebagainya. Hal ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang ketiga yaitu kehidupan sehat dan sejahtera,” sebutnya.
Erwin menambahkan, dalam hal ini, pelayanan kesehatan tradisional bisa ikut andil dalam kegiatan pengendalian hipertensi dengan modalitas ramuan pemanfaatan Taman Obat Keluarga (TOGA), yang bisa menurunkan tekanan darah sebagai adjuvant untuk obat hipertensi modern dan modalitas keterampilan, yaitu akupresur yang terbukti dapat dipakai menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi.
“Modalitas tersebut dapat dilakukan secara mandiri oleh diri sendiri untuk diri sendiri, keluarga dan/atau masyarakat yang disebut sebagai Asuhan Mandiri (Asman) pemanfaatan toga dan akupresur,” paparnya.
“Seminar Asman Pemanfaatan Toga dan Akupresur untuk mengendalikan Hipertensi ini digelar sebagai upaya mengedukasi masyarakat agar mampu melakukan asuhan mandiri pemanfaatan toga dan akupresur dengan benar,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Dharma Wanita Persatuan Dinkes Jatim Ita Kuntowati Erwin menerangkan, bahwa perlu adanya dukungan dari keluarga agar tidak terjadi putus minum obat. Salah satunya dengan Pelayanan Kesehatan Tradisional dengan memanfaatkan TOGA dan Akupresur secara mandiri.
Menurutnya, kegiatan Asman melalui pemanfaatan Toga dan Akupresur dilakukan oleh diri sendiri untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Di masyarakat, kata dia, biasanya akan terbentuk sebuah kelompok yang terdiri dari 5-10 KK yang nantinya menerapkan pemanfaatan Toga dan Akupresur.
“Kami mengajak Dharma Wanita Persatuan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dalam memanfaatkan Toga dan Akupresur secara mandiri dan benar untuk mengendalikan hipertensi di dalam keluarga masing-masing. Sehingga, kita sebagai Dharma Wanita memiliki peranan penting dalam menerapkan kegiatan tersebut di dalam keluarga supaya tujuan utama, meningkatkan kualitas sumber daya keluarga PNS untuk kesejahteraan nasional dapat tercapai,” ungkapnya.
Di kesempatan sama, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Provinsi Jatim sekaligus Ketua Panitia, Ninis Herlina Kiranasari melaporkan Seminar Kesehatan Tradisional diikuti oleh peserta secara daring dan luring. Peserta daring berasal dari seluruh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melalui media zoom dengan kapasitas 500 peserta. Sedangkan, peserta luring sebanyak 127 orang yang terdiri dari berbagai lintas program maupun lintas sektor terkait.
“Terimakasih kepada seluruh pihak yang terlibat. Penghargaan setinggi-tingginya juga kami sampaikan kepada segenap panitia yang telah bekerja keras demi suksesnya kegiatan seminar ini. Semoga peserta seminar yang hadir mendapatkan manfaat yang besar,” tandasnya. (adv)







