Surabaya (beritajatim.com) – Herma Prabayanti (41) mantan jurnalis salah satu televisi nasional asal Surabaya ini menjadi salah satu inspiried bagi wanita karier saat ini di Indonesia atau di Jawa Timur. Bermula menjadi seorang jurnalis siapa sangka saat ini dirinya mengembangkan karirnya menjadi seorang dosen di Universitas Negeri Surabaya dan seorang influenser Education di Indonesia.
Diceritakan wanita kelahiran 3 maret 1983 ini menjadi seorang jurnalis memiliki pride tersendiri hal ini terbukti nyata ketika dirinya menjadi seorang jurnalis yang bisa mengeducasi masyarakat lewat sesuatu yang mudah didengar tanpa harus menggurui mereka. Namun seiring berkembangnya jaman, industri media mengalami pola yang berubah terutama pada nasib jurnlias televisi yang beralih ke dunia digital, hal ini yang membuatnya akhirnya harus beranjak dari tempat nyamannya yang digelutinya hampir 15 tahun ini.
“Jurnalis pridenya besar makanya aku jatuh cinta menjadi seorang jurnalis, bisa mengeducasi orang tanpa harus menggurui dan dulu hambatan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan ijasah sulit akhirnya memilih ini dan pada akhirnya menjadi seorang jurnalis televisi lokal lalu nasional.” cerita Herma, Kamis (25/4/2025).
Pilihanya adalah menjadi seorang dosen yang proper tanpa harus meninggalkan ilmu jurnalis nya dan justru menjadi ilmu bagi orang lain. Ia memutuskan untuk menjadi seorang dosen dan mengembangkan Kece media televisi milik Unesa Surabaya dimana di tempat ini adalah sebuah wadah bagi mahasiswa untuk belajar menjadi seorang jurnalis dan Broadcaster.
Seiring berjalannya waktu, ia pun bersama tim mengembangkan Kece media dan menerapkan bagaimana secara real bekerja di dalam dunia jurnalistik yakni melalui rapat redaksi, bagaimana memikirkan konten untuk produksi, konten liputan wishlist hingga bagaimana cara memproduksi sebuah karya dan disiarkan di tv komunitas.
“Menjadi dosen ini kuncinya adalah berinovasi, menggali data dan menganalisis akhirnya saya memilih menganalisis siswa smp dan sma empat tahun lalu dan saya wujudkan ke dalam bentuk video tiktek ternyata fyp dan dari sinilah ilmu ini harus dikembangkan sebagai dosen, karena saat ini saya mengajar kebanyakan gen otomatis saya kerapkali mengaplikasikan pengalaman dibidang jurnasli saya dan bagaimana cara sosial media yang tetap sasaran,” ungkapnya.
Lebih lanjut diceritakan ibu satu anak ini, selain mengaplikasikan ke mahasiswa ia pun mengaplikasikan lewat tiktok yang kini memiliki 1,2 juta pengikut. Ibarat kata sambil menyelam minum air selain memberikan educasi kepada para Mahasiswa nya ai juga memberikan educasi tentang pendidikan dan pareting kepada para masyarakat dari sosial medianya.
“Sebenarnya menjadi seorang konten creator itu semua orang bisa, bukan hanya dari seorang jurnalis yang terpenting mau mempelajari bagaiaman bermain sosial media yang baik dan benar karena menjadi seorang konten kreator yang fyp itu semua bisa salah satunya saya yang memilih membuat konten tentas educasi dengan cara pareting namun dengan konsep yang lebih mudah dimengerti kepada semua pihak tanpa menyakiti banyak pihak,” ujarnya.
Saat ini, Herma bukan hanya mengembangkan sosial media milik pribadinya sebagai wadah edukasi dengan kepada generasi Z, ia pu kerap kali membekali sangat anak dan mahasiswanya untuk lebih bijak menggunakan sosial media. Karena saat ini banyak orang beranggapan jika sosial media dipandang banyak arti, dengan educasi yang tepat tentu pesan yang disampaikan di setiap konten yang dibuat akan tersampaikan dengan baik.
“Jadi sosial media ini bisa menjadi satu ajang untuk mengekspresikan diri untuk bisa melepas rasa insecure menjadi yang memiliki rasa percaya dan saya pun harus bisa mengolah konten dengan baik dan harus bisa mengeducasi para pengguna sosial media dan bisa menerapkan ilmu jurnalistik yang benar dan tepat sasaran,” tutupnya. (way/kun)






