Probolinggo (beritajatim.com) – Gemerlap panggung, ramainya pengunjung, dan geliat ekonomi selama gelaran Seminggu di Kota Probolinggo (Semipro) 2026 telah berakhir. Namun, di balik kesuksesan event tahunan yang berlangsung pada 3–12 Juli itu, Stadion Bayuangga justru meninggalkan potret yang memprihatinkan.
Lapangan yang selama ini menjadi kebanggaan atlet sepak bola Kota Probolinggo kini berubah wajah. Hamparan rumput hijau yang biasa menjadi arena latihan dan pertandingan berubah kecokelatan. Di sejumlah titik, rumput tampak mati akibat tertutup tenda dan padatnya aktivitas selama pelaksanaan acara.
Yang lebih mengkhawatirkan, lapangan tidak hanya rusak. Berbagai sampah masih berserakan di area stadion, mulai dari plastik, bungkus makanan, tusuk sate, hingga paku dan kawat bekas konstruksi tenda. Benda-benda tersebut berpotensi membahayakan atlet apabila stadion kembali digunakan tanpa pembersihan dan pemulihan secara menyeluruh.
Kondisi itu memicu kegelisahan insan sepakbola Kota Probolinggo. Pasalnya, Stadion Bayuangga dalam waktu dekat dijadwalkan kembali menjadi lokasi pertandingan olahraga, sementara kondisi lapangan dinilai belum layak.
Media Officer Askot PSSI Kota Probolinggo, Tri Handika Oktavianus, mengaku belum memperoleh kepastian terkait kesiapan stadion untuk agenda kompetisi berikutnya.
“Belum ada kepastian, Mas. Event terdekat antar pelajar tingkat SMP tanggal 24 Juli,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (13/7/2026).
Menurut Tri, persoalan bukan hanya rumput yang rusak, tetapi juga potensi bahaya yang masih mengintai para pemain. Seperti tusuk sate maupun benda tajam lain yang tergeletak di lapangan.
“Mungkin masih ada tusuk sate. Kondisi rumputnya juga seperti itu,” katanya.
Saat ditanya apakah kondisi tersebut membahayakan peserta pertandingan, Tri tidak menampik adanya kekhawatiran. Namun ia menegaskan Askot PSSI tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan terkait stadion.
“Dispopar yang lebih tahu, soalnya penyelenggara acara Dispopar dan pengelolaan stadion juga Dispopar. Askot PSSI hanya sebagai penyewa stadion,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa masa kepengurusan Askot PSSI Kota Probolinggo telah berakhir sehingga organisasi tersebut tidak berada pada posisi untuk menentukan kebijakan terkait penggunaan stadion.
Pernyataan tersebut sekaligus mengarahkan perhatian pada Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Dispopar) Kota Probolinggo sebagai penyelenggara Semipro sekaligus pengelola Stadion Bayuangga.
Publik pun mempertanyakan, apakah sejak awal terdapat standar operasional maupun klausul dalam kerja sama penyelenggaraan yang mengatur kewajiban pemulihan stadion setelah event selesai. Sebab, fasilitas olahraga milik pemerintah sejatinya dibangun untuk pembinaan atlet, bukan justru meninggalkan persoalan yang dapat menghambat aktivitas olahraga.
Hingga Senin sore, Kepala Dispopar Kota Probolinggo Mohammad Abas belum memberikan tanggapan atas konfirmasi mengenai kondisi stadion, mekanisme pemulihan lapangan, maupun jaminan keamanan bagi atlet yang akan menggunakan fasilitas tersebut.
Konfirmasi juga telah disampaikan kepada pihak event organizer (EO) Semipro, Agus Salim. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada jawaban.
Kini, sorotan publik tidak lagi tertuju pada kemeriahan Semipro, melainkan pada kondisi Stadion Bayuangga yang harus menanggung dampak penyelenggaraan event tersebut.
Pertanyaan besarnya sederhana: siapa yang bertanggung jawab mengembalikan stadion ke kondisi semula, dan kapan para atlet bisa kembali berlatih dengan aman tanpa dihantui risiko cedera akibat lapangan yang belum dipulihkan? (rap/ian)






