Surabaya (beritajatim.com) – Heri Lentho alias Heri Prasetyo meraih penghargaan Beritajatim Award kategori Seniman Berdedikasi. Penghargaan diserahkan dalam rangkaian HUT ke-18 media online Beritajatim.com di di Ballroom Whiz Luxe Hotel Spazio Surabaya, Kamis (02/05/2024).
“Sangat mengejutkan bagi saya. Mendapat penghargaan Beritajatim Award. Bersanding dengan tokoh-tokoh Jawa Timur maupun tokoh nasional. Ini sungguh luar biasa,” kata Heri Lentho sesaat setelah menerima penghargaan.
Menilik pada aktivitas dan pencapaiannya, Heri Lentho memang layak mendapat penghargaan. Sejauh ini, Heri Lentho mengelola 19 kegiatan kesenian. Heri Lentho mengelola Festival Ludruk Jawa Timur, Hari Musik Nasional, Surabaya Art & Culturas Festival, Parade Surabaya Juang, Surabaya Percussion Festival, Wayang Sejarah, Jatim Specta Night Carnival, Festival Kesenian Pesisir Utara Jawa Timur, Eksotika Bromo, Festival Karya Tari Jawa Timur, dan banyak lagi.
Bergiat sebagai aktivis kesenian, lelaki kelahiran 13 Mei 1967 ini tidak melupakan kodratnya sebagai seniman. Pencipta karya seni. Tercatat Heri Lentho telah menciptakan 134 karya seni. Dia menulis naskah drama musikal, naskah drama kolosal, naskah drama tari.
Sehingga bisa dibilang Heri Lentho adalah seniman plus-plus. Dia mencipta naskah sekaligus menjadi sutradaranya. Lebih dari itu, Heri Lentho juga yang mencarikan dana operasional pementasan.
Kepada awak redaksi beritajatim.com, Heri Lentho membeberkan awal mula ketertarikan memasuki dunia seni. Bahwa dia tertarik dengan seni sejak Tahun 1984. Mulanya tertarik pada seni tari. Yakni ketika dudukl di bangku SMAN 5 Malang.
“Karena sekolah dan gedung Kesenian Cindrawasih jadi satu kompleks, sering melihat latihan tari yang dipimpin seniman tari Pak Yongki. Dari situ melihat ragam gerak yang diajarkan serta pola komposisinya,” tutur pria murah senyum ini.
Dari melihat latihan tari, Heri Lentho penasaran ingin mencoba mencipta sendiri. “Saat malam perayaan Hari Kemerdekaan di Desa madyopuro, saya menco membuat tarian untuk karang taruna untuk tampil mengisi acara. Dari situlah lantas bertemu dengan teman sebaya yang sama-sama mempunyai ketrtarikan pada dunia tari,” ujarnya sembari mengenang.
Rupanya tari ciptaan Heri Lentho di acara Agustusan tingkat desa mendapat apresiasi dari masyarakat. Rasa percaya dirinya pun tumbuh. Heri Lentho pun ingin memasuki ranah seni secara lebih mendalam.
“Lantas ada seorang pelatih tari klasik gaya Surakarta melatih dan ujungnya mendirikan sebuah sanggar tari dan wayang Orang Madyo Taruni Budoyo. Waktu itu dengan menggelar sebuah cerita Lahire Gatotkoco,” katanya.
Lagi-lagi pementasan karya Heri Lentho berjalan sukses. Tetapi dasar memang seniman plus-plus, dia menyadari bahwa tugasnya bukan sekadar mencipta karya seni. Ada tugas lain yang kerap luput, yakni menyiapkan pertunjukan seni. Termasuk memikirkan pembiayaannya.
“Pada masa persiapan dan latihan, saya mengenal managent event dan bagaimana mengelola pertunjukan dan penggalangan dana dan sponsor,” katanya.
Lulus SMA, keinginan Heri Lentho untuk menekuni kesenian sudah tidak lagi terbendung. Dia masuk Jurusan Seni Tari IKIP (UNESA) Surabaya dan lulus pada tahun 1991. Selama di kampus, Heri Lentho semakin menyadari, dunia seni tidak tunggal. Seni berkarib tengkar dengan religi, filsafat, sosial, politik, ekonomi, serta hal ihwal lain dalam kehidupan.
Kesemuanya menyuguhkan tantangan dan peluang. Semuanya mesti dijalani walau karang menghadang. Satu pengalaman yang terus diingat Heri Lentho adalah ketika memerjuangkan seni di masa Orde Baru.
“Di masa tahun 1990 dimna mahasiswa dibatasi bersuara dan berekspresi, saya bersama Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya membuat terobosan. Bentuk pertunjukan semacam demo seni, yang kita sebut Demo Tari. Tujuannya agar bisa mengeluarkan mahasiswa dari kampus untuk bersuara di jalanan. Pertunjukan yang kita sebut Demo Tari ini akhirnya dikenal dengan konsep happening art bagi mahsiswa dalam mewarnai demo-demonya,” papar Heri Lentho panjang lebar.
Momentum tersebut mengajari Heri Lentho tentang satu hal, yakni modal utama aktivitas kesenian bukanlah dana. Tetapi kekuatan visi dan spirit kebersamaan. Salah satu buktinya adalah kegiatan Surabaya Juang dalam rangkaian peringatan Hari Pahlawan.
“Kami mendorong potensi sosial kapital Surabaya yang disebut gotong royong dan Sinoman Surabaya. Ini sebuah gerakan budaya. Surabaya Juang dengan program Pakaian Pejuang pada tanggal 9 dan 10 November bagi pelajar dan pegawai negeri di Kota Surabaya. Parade Surabaya Juang dan Teatrikal Kolosal Peristiwa Perobekan Bendera di Hotel Majapahit. Semua kita laksanakan dengan semangat gotong royong. Bukan uang,” kata Lentho.
Keberhasilan aktivitas kesenian tersebut memberi kesan sendiri bagi Heri Lentho. Dia merasa harus terus berkontribusi bagi pemajuan seni budaya. Harus turut berpartisipasi dalam pembangunan manusia yang berkepribadian dalam kebudayaan Indonesia.
“Saya menemukan metode ‘melibatkan’ dengan sasaran anak, pelajar, dan masyarakat. Melalui pendekatan sejarah dan kebudayaan yang hingga kini terus saya kembangkan. Pengembangan melalui karya-karya Sumpah Merah Putih, Parade Surabaya Juang, Teatrikal Kolosal Peristiwa Perobekan Bendera di Hotel Yamato/ Majapahit Surabaya, serta menggelar Kidung Tengger di lautan Pasir Gunung Bromo,” katanya.
Terakhir, Heri Lentho berharap pembangunan di Indonesia tidak hanya mengandalkan aspek fisik. “Setidak harus seimbang dalam pembangunan manusia Indonesia melalui kebudayaan. Untuk itu kami bersama komunitas pecinta Sejarah Surabaya akan terus memperjuangkan tanggal 10 November Hari Pahlawan dijadikan hari libur nasional dan Gerakan Pengibaran Bendera Setengah Tiang sebagai penghormatan pada pengorbanan para pahlawan yang mempertahankan kemerdekaan,” tadasnya. [but]






