Jember (beritajatim.com) – Hasil pemilihan ketua Asosiasi Kabupaten Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (Askab PSSI) Kabupaten Jember dipertanyakan dalam rapat dengar pendapat antara Komisi D dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), di DPRD Jember, Selasa (6/5/2025).
Musyawarah yang diikuti 51 klub anggota Askab PSSI Jember, 3 Mei 2025, secara aklamasi menunjuk calon tunggal Muhammad Waid, Ketua Laskar Sholawat Nasional, menjadi ketua umum untuk periode 2025-2029.
“Ini viral di masyarakat. Apakah ini sudah sesuai prosedur atau atau tidak? Karena di bawah lagi ramai. Ini kita mau menjawab juga tidak bisa. Ini regulasinya seperti apa? Karena yang saya tahu aklamasi itu langsung dipilih,” kata Muhammad Ahmad Birbik Munajil Hayat, anggota Komisi D dari Partai Golkar.
Birbik juga meminta penjelasan dari KONI yang tidak menempatkan sepak bola sebagai cabang olahraga unggulan pendulang medali dalam Pekan Olahraga Provinsi Jatim IX, di Malang Raya, medio Juni-Juli 2025.
Ketua KONI Jember Sutikno mengatakan, proses pemilihan ketua Askab PSSI dilaksanakan sesuai statuta PSSI dan FIFA. “Tidak bisa diintervensi. oleh siapapun. Tidak bisa diintervensi oleh pemerintah soal siapa yang jadi ketua,” kata pria yang pernah jadi ketua Askab PSSI Jember 2017-2021 ini.
Bahkan, lanjut Sutikno, pemilik suara juga diatur oleh statuta. “Misalkan Klub A yang hari ini punya hak sebagai voter selama dua tahun berturut-turut tidak melaksanakan kewajiban menjalankan program Askab, hak voternya hilang. Keanggotaan klubnya hilang. Jadi, betul-betul ketat,” katanya.
Proses pencalonan ketua, wakil ketua, dan komite eksekutif pun juga diatur ketat. “Dalam proses pemilihan ada namanya Komisi Pemilihan. Ada Komisi Banding. Jadi proses pencalonan, proses pemberitahuan, step by step diatur,” kata Sutikno.
Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Asosasi Provinsi PSSI Jawa Timur Amir Burhanuddin menyebut proses pemilihan dalam musyawarah Askab PSSI Jember sudah sesuai dengan statuta. “Sah, karena proses pemilihannya melalui Komite Pemilihan dan bisa di-challenge lagi oleh Komite Banding. Tentu sudah melalui tahapan panjang dan melalui sosialisasi,” katanya, usai menghadiri Musyawah Askab PSSI Jember.
Sementara soal tidak diunggulkannya cabor sepak bola oleh KONI Jember, Sutikno menyebut itu tak lepas dari pertimbangan matang di tengah efisiensi anggaran.
“Cabor sepak bola adalah cabor seksi. Cabor paling merakyat. Tapi kebetulan tahun ini kendati ada efisiensi anggaran, kita harus ada target bagaimana meraih prestasi. Maka dengan sangat terpaksa kita tidak bisa memfasilitasi sepak bola karena akan mengorbankan banyak cabor,” kata Sutikno.
Padahal, KONI Jember memasang target lumayan tinggi: meraih 81 medali. Dengan kekuatan 252 orang anggota kontingen daro 35 cabang olahraga, Sutikno berharap Jember bisa mendekati zona 10 besar perolehan medali. [wir]






