Mojokerto (beritajatim.com) – Hasil bumi dirangkai membentuk berbagai macam binatang seperti burung garuda dan naga diarak keliling dusun. Ini merupakan tradisi Dusun Kembangsore, Desa Petak, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto yang diyakini dapat mendatangkan kesejahteraan dan menjauhkan dari bala.
Mereka mengarak hasil bumi dengan mengenakan pakaian adat keliling dusun, Rabu (1/3/2023). Dimulai dengan peserta anak-anak yang memperagakan parade drum band dan parade bendera kemudian disusul para peserta yang merupakan warga di empat Rukun Warga (RT) yang ada di Dusun Kembangsore.
Empat RW yang ada di Dusun Kembangsore menampilkan hasil bumi yang dibentuk berbagai binatang. Arak-arakan hasil bumi rangkaian acara Ruwah Dusun ini mengambil start di pusar Dusun Kembangsore yakni di Petilasan Watu Anyang yang menjadi warisan leluhur dari masyarakat Dusun Kembangsore.
[berita-terkait number=”5″ tag=”mojokerto”]
Ratusan para peserta ini keliling dusun sejauh 3 KM dan finish kembali ke Petilasan Watu Anyar. Sementara warga sekitar sudah menanti di depan rumah rombongan peserta Ruwah Dusun melintasi rumah-rumah mereka. Ruwah Dusun di Dusun Kembangsore akan digelar selama dua hari, tanggal 1-2 Maret 2023.
“Ruwah Dusun Kembangsore ini setiap tahunnya digelar. Ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan YME yang telah memberikan kesehatan, kelancaran, kesuksesan dalam pekerjaan, keluarga dimanapun berada dan diberikan keselamatan,” ungkap Kepala Desa (Kades) Petak, Supoyo.
Masyarakat yang ada di empat RW yang ada di Dusun Kembangsore yang menjadi peserta kirab Ruwah Dusun. Sementara mereka menampilkan hasil bumi yang dikemas dengan kearifan lokal, seperti adanya kesenian tradisional bantengan, kuda lumping, wayangan, reog dan lainnya.
“Tak hanya orang dewasa, juga ada anak-anak SD yang menampilkan drumband. Masyarakat berkreasi dengan hasil bumi, dibuat macam-macam. Ada reog dari hasil bumi, barongsai dari hasil bumi, naga juga dari hasil bumi. Semua kreasi masing-masing RW, kearifan lokal kita angkat dengan mengangkat hasil bumi,” katanya.
Harapannya hasil pertanian, lanjut Kades, masyarakat Dusun Kembangsore yang mayoritas petani tersebut melimpah ruah. Hasil meningkat dengan harga yang tinggi, serta masyarakat Dusun Kembangsore dijauhkan dari mara bahaya dan dijauhkan dari segala macam penyakit.
“Karena ini merupakan warisan leluhur kita, namanya Watu Anyang. Ini adalah pusat atau puser Dusun Kembangsore. Ini sudah ada sejak jaman purba, ini dulu merupakan taman kembang dan kalau sore harumnya kemana-mana sehingga disebut Kembangsore. Bahkan dulu ada yang namanya Putri Kembangsore,” ujarnya. [tin/kun]
![Hasil Bumi Masyarakat di Mojokerto Diarak Keliling Dusun Salah satu peserta Ruwah Dusun Kembangsore, Desa Petak, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. [Foto : Misti/beritajatim.com]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/03/IMG_20230301_184641.jpg)






