Mojokerto (beritajatim.com) – Kerajaan Majapahit berdiri di tanah Jawa sekitar tahun 1293 M dan merupakan kerajaan Hindu-Budha terbesar di Indonesia. Kerajaan Majapahit merupakan ikon peradaban Hindu-Jawa tertua di Jawa dengan wilayah kekuasaan mencapai hampir seluruh Nusantara.
Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya pada tahun 1293, seorang menantu dari Kertanegara, raja terakhir Singasari. Beritajatim.com akan menulis sejarahnya secara berseri mulai hari ini.
HARI LAHIR KERAJAAN MAJAPAHIT
Lah iya ujarira anging mben ikapanjang punang diwasayu ri purneng kartikamasa iku abecik. Tan-dwa prapta pancadaci cukleng kacatur ndan siradhipati enjang mangkyangdani pan byuhan ing karya punang wong atrewuh aliweran jalw istri prasama aky’amundut sawidhiwidhana krama ning homa ambhiseka prabhu ri purwa ning pangstryan tang pangasthulan.
(Kidung Harsya Wijaya, Demung VI Kidung 84-b dan 85-b).
Hanya demikianlah katanya, bahwa besok lusa Hari Kelima Belas, Bulan Kartika itu adalah baik. Tiada lama kemudian telah sampailah pada waktunya, tanggal lima belas waktu purnama keempat, pada pagi hari sang adhipati telah hanyut dalam tugas pekerjaannya, semua orang juga kelihatan sibuk, laki-laki perempuan mempersiapkan untaian kalung dan boreh konyoh untuk dipersembahkan pada awal pelantikan.
Keterangan:
Sesuai kidung diatas maka dapat ditafsirkan bahwa hari kelahiran kerajaan Majapahit disesuaikan dengan hari pelantikan raja pertama Majapahit, Raden Wijaya yang terlaksana pada Hari ke-15, Bulan Kartika, Tahun 1215 Çaka.
Bulan kartika dalam kalender tahun Çaka adalah bulan ke-4. Sedangkan menurut perhitungan yang lazim, Tahun Çaka 78 tahun lebih muda dibanding Tahun Masehi.
Sesuai buku 700 tahun Majapahit (1293-1993) suatu Bunga rampai oleh DR Sartono Kartodirdjo dapat disimpulkan bahwa Hari ke-15, Bulan Keempat, Tahun 1215 Çaka bertepatan dengan Hari ke-12, Bulan ke-11, Tahun 1293 Masehi atau Tanggal 12 November 1293 Masehi.
Melansir dari situs resmi Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur dari Laporan Kegiatan Explorasi Informasi Koleksi Museum Majapahit tahun 2015 , Kerajaan Majapahit mewarnai panggung sejarah Indonesia.
Kekuasaannya meliputi Jawa, Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan hingga Indonesia Timur. Wilayah kekuasaan Majapahit yang luas sebagai bukti bahwa telah terjadi kemapanan yang cukup segnifikan. Mulai dari segi kehidupan politik, ekonomi, sosial dan keagamaan.
Prof Dr Sartono Kartodirdjo dalam buku 700 tahun Majaphit menjelaskan bahwasanya Majapahit mencapai kebesarannya pada abad XIV diketahui umum, terutama berdasar- kan keterangan-keterangan dalam Nagarakrtagama, yang menunjukkan wilayah pengaruhnya meliputi wilayah lebih luas dari pada kepulauan Nusantara dewasa ini.
“Di dalam karyanya itu Prapanca juga mengungkapkan banyak keterangan tentang masya- rakat Majapahit dengan tenunan sosial, tidak hanya struktur sosial beserta stratifikasinya, tetapi juga struktur kekuasaan beserta hirarki dan pelbagai elite kekuasannya,” kata Prof Dr Sartono.
Baca Juga: Jemblem Majapahit, Kue Tradisional dengan Tekstur Lembut
Berkat wawasan sosial Prapanca pelbagai segi tekstur masyarakat Majapahit terungkapkan, sehingga terbentanglah kanvas sosial secara jelas sebagai latar belakang sistem politik beserta tata-pemerintahannya.
Ahli purbakala dan sejarawan amat beruntung mewa risi jenis historiografi yang lain dari pada yang lain; yaitu Nagarakrtagama, yang tidak lagi ditulis berda- sarkan pandangan dunia kosmis-magis serta mitolo- gis, tetapi terutama memuat deskripsi empiris tentang realitas sosial, politik dan kultural kerajaan ekonomis Majapahit.
Dalam catatan sejarah Indonesia, Majapahit telah mampu menorehkan tinta emas akan kesuksesannya menyatukan wilayah Nusantara dibawah panji-panji Majapahit. Yakni Maha Patih Gajah Mada dengan “Sumpah Amukti Palapa”.
Tak bisa dipungkiri bahwa hampir semua sendi kehidupan masyarakat Majapahit dijiwai oleh agama yang dianut pada waktu itu. Hal ini dapat dilihat dari beberapa tinggalan arkeologis yang mencerminkan penjabaran nilai-nilai keagamaan tersebut.

Jika dihubungkan dengan kehidupan sosial masyarakat Majapahit dengan rentang waktu berkuasa cukup lama, kurang lebih dua abad (XIII-XV M) menjadikan Majapahit memiliki tinggalan yang beranekaragam. Kerajaan Majapahit mencapai masa kejayaan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada.
Yakni pada tahun 1350 hingga 1389. Melansir sejumlah situs, masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit mampu mempersatukan Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura) dan beberapa wilayah Filipina.
Dimana pada masa ini bisa dianggap sebagai masa puncak kemegahan Kerajaan Majapahit. Kestabilan kehidupan Majapahit ini tentunya akan mampu menumbuhkan tingkat kebudayaan masyarakatnya. Bahkan Majapahit dianggap telah mengalami tingkat peradaban kebudayaan pada kurun waktu sekitar abad XIV masehi.
Karya-karya bermunculan yang menggambarkan kekhasan baik seni pengarcaan maupun pada bangunan candi. Kebudayaan Majapahit meningkat dengan pesannya khususnya di bidang kesenian yang secara artefaktual diklasifikasikan menjadi seni bangunan (arstektur), seni kriya, dan seni sastra.
Untuk seni kriya memiliki cakupan yang uas termasuk diantaranya seni pahat (relief, arca) dan seni ukir. Namun untuk pahatan relief tidak semuanya mengandung sebuah cerita, namun lebih difungsikan sebagai simbol, ornamen hias maupun atribut pada suatu benda.
Selain menguasai Nusantara, Majapahit juga berhubungan baik dengan kerajaan lain seperti Campa, Kamboja, Siam, Burma Selatan, Vietnam dan Cina. Kerajaan Majapahit memiliki sumber sejarah diantaranya kitab Negarakertagama, Pararaton, prasasti serta berita. [tin/ted]






