Banyuwangi (beritajatim.com) – Peringatan Hari Kartini dimanfaatkan Bupati Ipuk Fiestiandani untuk memperkuat partisipasi perempuan dalam pembangunan daerah melalui forum “Rembug Perempuan” di Banyuwangi. Forum ini menjadi wadah menyerap aspirasi perempuan untuk merancang kebijakan pembangunan tahun mendatang.
Kegiatan yang digelar di Aula Minak Jinggo, Kantor Pemkab Banyuwangi tersebut diikuti puluhan perempuan dari berbagai latar belakang. Mulai dari organisasi kemasyarakatan, keagamaan, tenaga kesehatan, pelaku usaha, komunitas literasi, hingga pendamping sosial.
Peserta yang hadir di antaranya penggiat PKK kabupaten dan kecamatan, organisasi keagamaan seperti Aisyiyah, Muslimat Nahdlatul Ulama, Perkumpulan Perempuan Katolik, Hindu dan Buddha, serta Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI). Selain itu, turut hadir kepala desa dan sekretaris desa perempuan, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), pegiat literasi, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), kader posyandu, Migrant Care, hingga pelaku UMKM perempuan.
“Kemajuan daerah tidak akan tercapai tanpa keterlibatan aktif perempuan. Kami terus mendorong hadirnya kebijakan yang berpihak pada perempuan dan anak sebagaimana pemikiran visioner Kartini yang memperjuangkan pendidikan, kesetaraan kesempatan, dan martabat perempuan,” kata Ipuk.
Ipuk menegaskan perempuan memiliki peran strategis di berbagai sektor, mulai dari keluarga hingga pembangunan daerah. Karena itu, forum ini menjadi ruang penting untuk mendengar langsung suara perempuan.
“Melalui rembuk ini, saya berharap lahir gagasan-gagasan segar dan solusi yang menjadikan perempuan Banyuwangi sebagai perempuan yang berdaya, mandiri, sehat, cerdas, dan sejahtera, menjadi penyangga keluarga hingga penggerak ekonomi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Banyuwangi, Suyanto Waspotondo, menjelaskan forum ini dibagi dalam empat kelompok tematik, yakni literasi digital, kesehatan jiwa, pemberdayaan perempuan, serta bisnis dan ekonomi kreatif.
“Sebelumnya para perwakilan telah melakukan kunjungan ke OPD untuk mendapat insight dan mengumpulkan materi. Lalu setiap kelompok berdiskusi dengan didampingi oleh fasilitator selanjutnya merumuskan masukan-masukan perencanaan,” kata Suyanto.
Dari forum tersebut, berbagai aspirasi mengemuka. Salah satunya disampaikan perwakilan KUPI, Zulfi Zumala, yang mendorong peningkatan literasi digital bagi keluarga serta perlindungan terhadap kekerasan digital.
“Untuk mendukung produktifitas perempuan kami juga mengusulkan adanya peningkatan kapasitas penggunaan medsos untuk produktivitas, pelatihan literasi keuangan dan pelatihan keamanan digital bagi perempuan,” jelasnya.
Selain itu, peserta juga mengusulkan penguatan program pemberdayaan ekonomi bagi kepala keluarga perempuan melalui program “Kanggo Riko”, peningkatan layanan kesehatan mental perempuan dan anak, penyediaan hotline kesehatan, serta pelatihan ekonomi kreatif untuk mendorong kemandirian ekonomi perempuan di Banyuwangi. [alr/beq]






