Madiun (beritajatim.com) – Harga tomat di Kabupaten Madiun tengah anjlok drastis. Jika sebelumnya sempat mencapai Rp 18.000 per kilogram pada Maret lalu, kini harga di tingkat petani hanya sekitar Rp 2.000 per kilogram.
Wagimun, petani tomat asal Dusun Seweru, Desa Kare, Kabupaten Madiun, mengaku harga Rp 2.000 hanya cukup untuk balik modal. “Kalau harga segitu petani enggak untung sama sekali, cuma balik modal. Karena biaya operasional satu pohon minimal Rp 3.500, mulai dari tenaga kerja, obat, pupuk, sampai bibit,” jelasnya, Jumat (26/9/2025).
Dia menyebut, harga Rp 4.000 per kilogram baru dianggap standar agar petani bisa meraih sedikit keuntungan. “Kalau Rp 4.000 itu masih ada laba. Tapi kalau Rp 2.000 ya rugi, hanya bisa nutupi modal,” tambahnya.
Menurut Wagimun, tingginya biaya operasional ditambah dengan perawatan intensif membuat risiko kerugian semakin besar ketika harga anjlok. “Penyemprotan obat kadang seminggu dua kali, bahkan bisa sampai empat kali kalau serangan hama sedang tinggi,” ujarnya.
Selain harga, petani juga menghadapi kendala serangan hama ulat yang merusak daun tomat. “Kendalanya ulat, daunnya habis. Jadi harus sering pakai fungisida,” katanya.
Meski begitu, Wagimun berharap harga tomat bisa kembali stabil agar petani tidak terus merugi. “Harapan petani ya harga stabil. Jangan seperti ini, bisa bikin petani sayur kapok menanam,” pungkasnya. (rbr/but)






