Pasuruan (beritajatim.com) – Kenaikan harga komoditas berbahan plastik kini mulai meresahkan para pelaku usaha mikro di wilayah Pasuruan dan sekitarnya. Lonjakan yang terjadi secara mendadak ini memicu kekhawatiran akan keberlangsungan bisnis kecil yang sangat bergantung pada kemasan plastik sekali pakai.
Kenaikan harga tersebut dilaporkan telah berlangsung sejak sebelum masa Lebaran dan terus bertahan hingga saat ini. Akibatnya, banyak pedagang harus memutar otak untuk menyesuaikan modal usaha mereka di tengah harga barang yang tidak menentu.
Salah satu pedagang di pasar Bangil, Imron, menyebutkan bahwa kenaikan harga plastik jenis kresek orisinal bahkan menembus angka yang sangat signifikan. “Kalau yang kresek ori itu biasanya cuma 23 ribu rupiah, tapi sekarang sudah naik jadi sekitar 35 ribu sampai 37 ribu rupiah per kilonya,” ungkapnya, Jumat (17/4).
Selain plastik kresek, kenaikan juga merambah pada wadah makanan plastik atau thinwall yang sangat dibutuhkan oleh para pengusaha kuliner. Produk kemasan kotak ini mengalami lonjakan harga sekitar 40 persen, yang dianggap sangat memberatkan bagi para pelanggan setianya.
Faktor distribusi dan situasi global diduga kuat menjadi pemicu utama di balik meroketnya harga bahan baku plastik di tingkat grosir. Kondisi ini membuat para pedagang tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti kenaikan harga yang ditetapkan oleh pihak distributor pusat.
Imron menambahkan bahwa kenaikan harga barang plastik secara umum berada di rentang 15 persen hingga 30 persen dari harga normal sebelumnya. “Kenaikannya ini langsung signifikan, tidak bertahap dikit-dikit, dan dampaknya sangat terasa bagi kami pedagang kecil,” jelasnya saat ditemui di lapaknya.
Tingginya harga jual berdampak langsung pada jumlah omzet harian para pedagang yang kini mengalami penurunan cukup drastis. Banyak konsumen yang mulai mengurangi jumlah pembelian karena daya beli masyarakat yang sedang melemah akibat inflasi bahan pokok lainnya.
Penurunan penjualan tersebut ditaksir mencapai angka 30 persen dibandingkan dengan periode normal sebelum terjadinya gejolak harga. “Harapan saya harga kembali normal untuk mengangkat kembali daya beli masyarakat yang sekarang sedang menurun ini,” tutup Imron penuh harap. (ada/aje)






