Probolinggo (beritajatim.com) – Gelombang disrupsi digital kian terasa di ruang redaksi. Teknologi kecerdasan buatan (AI) hadir membawa kemudahan, sekaligus kegelisahan baru bagi dunia jurnalistik.
Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Farida Dewi Maharani, menangkap situasi ini sebagai momen penting bagi jurnalis untuk meneguhkan kembali perannya. Dalam wawancara, Kamis (16/4/2026) sore, ia menekankan bahwa perubahan tidak bisa dihindari, namun harus dihadapi dengan sikap yang tepat.
“Disrupsi ini nyata. Dampaknya sudah kita lihat, mulai dari perubahan pola kerja hingga adanya layoff di industri media. Di saat yang sama, konten kreator semakin banyak bermunculan,” ujarnya.
Menurut Farida, kondisi ini menuntut jurnalis untuk bergerak lebih lincah tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Salah satunya dengan memanfaatkan AI di ruang redaksi.
Namun ia mengingatkan, penggunaan AI tidak boleh menggeser peran utama jurnalis sebagai pengolah dan penentu kebenaran informasi.
“AI itu alat bantu. Dia bisa mempercepat pekerjaan, tapi bukan untuk menggantikan manusia. Keputusan akhir tetap ada di tangan jurnalis,” tegasnya.
Farida menilai, di tengah derasnya arus informasi yang kini bercampur dengan konten hasil rekayasa AI, tantangan jurnalis justru semakin berat. Bukan hanya menyajikan berita cepat, tetapi juga memastikan kebenaran di baliknya.
Ia pun mengingatkan pentingnya menjaga naluri kritis sesuatu yang tidak bisa dimiliki oleh mesin.
“Sekarang ini banyak konten yang terlihat sangat nyata, padahal belum tentu benar. Di sinilah jurnalis harus lebih teliti, tidak langsung percaya, dan tetap menguji informasi,” katanya.
Bagi Farida, justru di era seperti ini, nilai dasar jurnalistik menjadi semakin relevan. Ketika publik dibanjiri informasi dari berbagai sumber, kehadiran jurnalis yang mampu menyaring, memverifikasi, dan menjelaskan fakta menjadi sangat penting.
Ia menegaskan, teknologi hanyalah alat. Sementara kepercayaan publik tetap bergantung pada integritas dan ketajaman manusia di balik berita.
“Silakan manfaatkan teknologi, tapi jangan sampai kehilangan peran sebagai manusia yang berpikir, menilai, dan bertanggung jawab atas informasi,” pungkasnya. [rap/aje]






