Gresik (beritajatim.com) – Imbas naiknya harga minya goreng kemasan di pasaran, membuat sejumlah pedagang kali lima mengeluh. Salah satu pedagang yang mengalami hal ini adalah Rusdi (54) yang berprofesi sebagai penjual empek-empek keliling. Dirinya, terpaksa menaikkan harga jual. Pasalnya, harga minyak goreng kemasan yang ditetapkan pemerintah Rp 14 ribu perliter sulit dicari.
Meski kenaikan harga minyak goreng sudah berjalan lama. Rusdi hanya bisa pasrah dan tetap berkeliling menjajakan dagangannya di kawasan Kebomas, Gresik.
[berita-terkait number=”5″ tag=”minyak-goreng”]
Masih menurut Rusdi, minyak goreng yang sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) sudah dicari. Bapak dua anak ini terpaksa beralih menggunakan minyak goreng curah agar bisa menyambung hidup. “Iya mau giman lagi mas terpaksa saya naikan harga jualnya menjadi Rp 2500 dari semula Rp 2000,” ujarnya, Kamis (17/03/2022).
Kondisi yang dialami Rusdi, juga sama dialami oleh Sukirno (51) penjual makanan lalapan. Jika regulasi HET yang ditetapkan pemerintah dicabut, dikuatirkan harga minyak goreng akan merangkak naik hingga Rp 20 ribu per liternya. Hal ini tentu memberatkan para pedagang makanan. “Sekarang susah mencari minyak goreng yang sesuai HET. Mau bagaimana lagi terpaksa kami menaikan harga makanan,” katanya.
Seperti diketahui, minyak goreng dengan kemasan yang dipatok pemerintah sebesar Rp 14 ribu perliter masih dicari di pasaran. Di Kabupaten Gresik misalnya, harga minyak goreng kemasan 2 liter dijual seharga Rp 40 ribu hingga Rp 46 ribu. Sedangkan minyak goreng 1 liter dijual Rp 20 ribu. [dny/kun]






